Media Kampung – Kabupaten Buleleng untuk pertama kalinya mengirimkan duta pada Parade Janger Remaja dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026. Penampilan perdana tersebut dibawakan oleh Sekehe Yowana Mudita Desa Adat Kalibukbuk melalui garapan berjudul Atma Prasangka di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Denpasar, Kamis, 25 Juni 2026.

Keikutsertaan ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kembali Janger khas Kalibukbuk yang pernah berkembang pada era 1960-an. Selain menyajikan pertunjukan seni, garapan tersebut juga mengangkat kembali bentuk, gending, dan nilai budaya yang pernah hidup di tengah masyarakat Desa Adat Kalibukbuk.

Riset dan Penelusuran Sejarah

Pembina garapan, Gede Adi Setiawan, mengatakan karya Atma Prasangka disusun melalui proses riset yang melibatkan berbagai narasumber. Tim pembina tabuh dan vokal menghimpun informasi dari mantan penari, penonton, hingga para tetua desa yang masih mengingat pertunjukan Janger Kalibukbuk pada masa lalu.

“Kami sepakat mengangkat kembali Janger yang pernah eksis di Desa Adat Kalibukbuk sekitar tahun 1960-an. Gending-gending yang dibawakan merupakan hasil penelusuran dari para narasumber yang masih menyimpan ingatan tentang kesenian ini,” ujarnya.

Pakem dan Inovasi Gerak

Adi menjelaskan struktur pertunjukan tetap mempertahankan pakem Janger terdahulu. Perubahan hanya dilakukan pada pengolahan gerak untuk memperkuat penyajian di atas panggung, sedangkan lagu-lagu dan vokal tetap dipertahankan sesuai bentuk aslinya agar karakter Janger Kalibukbuk tetap terjaga.

Makna Lakon Atma Prasangka

Melalui lakon Atma Prasangka, garapan tersebut mengangkat persoalan prasangka dalam kehidupan manusia. Cerita itu menggambarkan sikap seseorang ketika mengetahui kebenaran tetapi memilih diam, maupun ketika merasa benar padahal sebenarnya keliru. Gagasan tersebut dipadukan dengan nilai Atma Kerthi yang menekankan kesadaran terhadap jati diri, keseimbangan jiwa, serta keharmonisan hubungan purusa dan pradana.

Menurut Adi, pesan utama yang ingin disampaikan melalui garapan tersebut adalah mengajak masyarakat melakukan refleksi terhadap diri sendiri. “Pernahkah kita sadar siapa diri kita, untuk apa kita hidup, dan apa yang harus kita lakukan. Itulah yang ingin kami renungkan melalui karya ini,” katanya.

Proses Panjang dan Harapan ke Depan

Proses penyusunan garapan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Selain menjalani latihan selama tiga bulan, tim juga melakukan penelusuran sejarah dan menghimpun berbagai informasi dari para narasumber untuk menyusun kembali bentuk Janger Kalibukbuk yang telah lama tidak dipentaskan.

Bagi Sekehe Yowana Mudita Desa Adat Kalibukbuk, keikutsertaan sebagai duta pertama Kabupaten Buleleng pada Parade Janger Remaja PKB menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali kesenian Janger di daerahnya. Mereka berharap Janger tidak hanya tampil pada panggung festival, tetapi juga kembali hadir dalam kegiatan ngayah, desa adat, serta berbagai agenda kebudayaan di Kabupaten Buleleng.

“Semoga penampilan ini menjadi awal agar Janger di Kabupaten Buleleng terus eksis, berkembang, dan kembali menjadi identitas budaya yang diwariskan kepada generasi muda,” ucap Adi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.