Media Kampung – Ketika Presiden Joko Widodo merencanakan safari politik keliling Indonesia, ketegangan politik kembali muncul di panggung nasional. PSI Jawab Sindiran PDIP soal “Bawa Ijazah” Dulu Mencalonkan, Sekarang Teriak menjadi headline utama yang menggambarkan benturan retorika antara dua partai besar. Dalam pernyataan terbarunya, Ketua Bidang Politik DPP PSI, Bestari Barus, menolak keras komentar PDIP yang menyinggung keaslian ijazah Jokowi.

Latar Belakang Sindiran PDIP

Andreas Hugo Pareira, Ketua DPP PDIP sekaligus Wakil Ketua Komisi XIII DPR, baru-baru ini menyoroti isu ijazah Jokowi yang masih menjadi perbincangan publik. Ia menyarankan Presiden untuk membawa ijazahnya saat melakukan safari politik, mengingat masih banyak masyarakat yang mempertanyakan keasliannya. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan media pada Jumat (29/5), bertepatan dengan rencana Jokowi mengunjungi tiga provinsi: Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Barat.

Respon PSI: Santai namun Tegas

Bestari Barus menanggapi sindiran tersebut dengan nada santai namun tegas. “Menurut saya apa yang mereka sampaikan itu dua-duanya nggak berbobot gitu,” ujarnya kepada wartawan pada Jumat (29/5). Ia menambahkan, “Padahal pada waktu itu mereka yang mencalonkan Pak Jokowi juga bersama partai lainnya, hari ini dia teriak soal itu (ijazah). Saya kira itu sangat tidak berkelas,” sehingga menegaskan bahwa PSI Jawab Sindiran PDIP soal “Bawa Ijazah” Dulu Mencalonkan, Sekarang Teriak bukan sekadar retorika kosong melainkan kritik atas perubahan sikap PDIP.

Strategi PSI Menyikapi Kritik

Dalam rangkaian kunjungan ke daerah, Jokowi diperkirakan akan meluangkan waktu untuk bertemu struktur PSI di masing‑masing provinsi. Bestari menegaskan, “PSI tersenyum saja gitu karena nanti Pak Jokowi sangat dipastikan akan memperlihatkan ijazahnya gitu kalau diminta pengadilan pada saatnya.” Pernyataan ini menggambarkan keyakinan PSI bahwa isu ijazah akan terselesaikan melalui proses hukum, bukan lewat serangan politik.

Bestari juga menilai bahwa komentar PDIP mencerminkan kekhawatiran terhadap langkah politik Jokowi belakangan ini. Ia menyatakan, “Kalau nggak khawatir ngapain berkomentar? Orang kan berkomentar salah satunya itu karena khawatir,” sehingga menegaskan kembali posisi PSI yang memilih untuk tetap santai menghadapi sindiran tersebut.

Implikasi Politik Menjelang Pilpres 2024

Hubungan antara Jokowi dan PDIP memang pernah berada di puncak, mengingat PDIP menjadi partai pengusung Jokowi sejak era Walkot Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga dua kali Pilpres 2014 dan 2019. Namun, persaingan kini muncul menjelang Pilpres 2024, di mana PSI menjadi salah satu partai yang mendekatkan diri pada sosok Presiden. Kontroversi ijazah ini dapat menjadi bahan serang‑serangan politik yang memengaruhi citra masing‑masing partai.

Selain menyoroti isu ijazah, PSI Jawab Sindiran PDIP soal “Bawa Ijazah” Dulu Mencalonkan, Sekarang Teriak juga menekankan pentingnya fokus pada agenda kebijakan dan pembangunan, bukan pada perdebatan pribadi. Bestari menutup pernyataannya dengan, “Santai, kita nikmati kegelisahan itu,” menandakan strategi PSI untuk tidak terjebak dalam drama politik yang berlebihan.

Kesimpulan

Dengan menggabungkan retorika tajam dan sikap santai, PSI menunjukkan bahwa partai tersebut tidak akan terpengaruh oleh sindiran PDIP. PSI Jawab Sindiran PDIP soal “Bawa Ijazah” Dulu Mencalonkan, Sekarang Teriak menjadi contoh bagaimana dinamika politik Indonesia terus beradaptasi, terutama menjelang pemilihan umum mendatang. Kesiapan Jokowi dalam menanggapi isu ijazah, serta respons PSI yang tetap tenang, menjadi indikator penting bagi pemilih dalam menilai integritas dan kredibilitas para pelaku politik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.