Media Kampung – Fenomena “Jokowi Effect” yang selama ini menjadi kekuatan politik dalam berbagai kontestasi kini menghadapi dinamika baru yang cukup menantang. Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menyatakan bahwa sentimen publik terhadap Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, telah berubah signifikan setelah sepuluh tahun masa pemerintahannya.
Pangi menjelaskan bahwa pada masa sebelumnya, pengaruh Jokowi dalam mendongkrak elektabilitas partai politik dan kelompok relawan cukup kuat. Namun, kini masyarakat cenderung lebih kritis, bahkan kerap melontarkan kritik tajam dan evaluasi terhadap kinerja Jokowi selama dua periode kepemimpinannya. Hal ini terlihat jelas di media sosial yang lebih banyak dipenuhi oleh ungkapan ketidakpuasan daripada dukungan.
Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) maupun organisasi relawan Projo yang masih sangat bergantung pada nama besar Jokowi untuk meraih suara dalam pemilihan umum. Pangi mengungkapkan, meskipun pengaruh Jokowi masih dianggap sakti dan menjadi daya tarik utama, mengandalkan nama Jokowi saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan elektoral. Hal ini dibuktikan oleh kegagalan PSI menembus ambang batas parlemen pada Pemilu 2024 meski mengusung narasi ‘Jokowisme’.
Menanggapi hal tersebut, Jokowi sendiri menunjukkan komitmen tinggi untuk terus mendukung PSI. Dalam Rapat Kerja Nasional PSI di Makassar awal tahun ini, Jokowi menyatakan kesanggupannya turun langsung ke masyarakat hingga tingkat kecamatan untuk memperkuat jaringan dan struktur partai. Ia menegaskan kesiapan untuk mengunjungi seluruh provinsi, kabupaten, hingga kecamatan di Indonesia demi memajukan PSI.
Jokowi juga mengingatkan bahwa kekuatan sebuah partai politik terletak pada struktur yang solid dan kader yang militan. Ia berjanji akan bekerja keras bersama para pengurus dan kader PSI demi kemajuan partai. Meski demikian, Pangi mengingatkan agar PSI dan Projo tidak semata-mata menggantungkan harapan pada figur Jokowi, sebab sentimen masyarakat saat ini telah berubah dan menuntut pendekatan yang lebih adaptif.
Dengan demikian, “Jokowi Effect” masih menjadi faktor penting dalam peta politik nasional, namun menghadapi tantangan baru yang mengharuskan partai politik dan relawan untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan sikap publik. Keberhasilan PSI dan Projo dalam memanfaatkan pengaruh Jokowi sangat bergantung pada kemampuan mereka membangun struktur yang kuat dan merespons kritik masyarakat secara konstruktif.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan