Media Kampung, Medan – Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Sumatera Utara mengungkap penyebab sementara ledakan yang terjadi di Perumahan Grand Polonia, Medan, pada Senin (20/7/2026). Hasil pemeriksaan menunjukkan ledakan dipicu oleh kebocoran gas dari kompor tanam di area dapur rumah nomor 3B.

Temuan Awal Labfor

Kasubdit Fiskom Bid Labfor Polda Sumut, AKBP Roy Tenno Siburian, menjelaskan bahwa kerusakan pada bangunan mengindikasikan tekanan berasal dari dalam rumah. “Hasil yang sudah kita temukan bahwa kerusakan yang terjadi itu ciri khas menunjukkan bahwa tekanannya semua dari dalam rumah. Artinya ada di sana tekanan yang kuat yang membuat sampai yang dinding atau barang-barang yang lain itu roboh di sana,” kata Roy di lokasi kejadian, Selasa (21/7/2026).

Baca juga:

Tim forensik menemukan kompor tanam yang terangkat ke atas dan pintu-pintu yang terbuka di area dapur. “Di dapur kita temukan di sana ada kompor tanam dan juga pintu-pintu yang terbuka. Di mana kompor ini terangkat ke atas. Itu di sana adalah terminal gas yang digunakan untuk memasak. Jadi artinya, kalau ada tekanan di sana, bisa diartikan bahwa terjadi kebakaran gas,” sambung Roy.

Konsentrasi Gas Capai 10 LEL

Dengan menggunakan detektor gas, petugas menemukan konsentrasi gas di dapur mencapai 10 lower explosive limit (LEL) — ambang batas di mana gas dapat meledak. “Hasil pertama yang kita temukan di sana dengan gas detector, kita menemukan ada konsentrasi bervariasi di dapur itu. Ada sekitar paling tidak 10 LEL-nya. Jadi itu dalam konsentrasi itu harusnya gas itu bisa terdetonasi,” ucap Roy.

Menurut Roy, kebocoran pipa gas di area tertutup menyebabkan gas terkonsentrasi sehingga ledakan yang dihasilkan cukup kuat untuk merusak bangunan. “Bisa (mengakibatkan ledakan besar). Karena ini rumahnya tertutup. Jadi ketika dia terkonsentrasi di dalam ruangan tertentu, nah itu bisa roboh,” imbuhnya.

Baca juga:

Pemicu Ledakan

Roy menyebutkan, pemicu awal ledakan bisa berasal dari percikan listrik, seperti saat menghidupkan lampu, atau gesekan logam. “Kalau sudah ada gas di dalam suatu ruangan tertutup, lalu ada di sana contoh pemantik, seperti itu. Atau misalnya orang menghidupkan lampu, itu bisa terjadi langsung. Karena itu sangat mudah terpantik ya,” ucap Roy.

Pihak forensik belum dapat memastikan berapa lama gas telah bocor sebelum meledak. Namun, melihat kerusakan yang parah, konsentrasi gas diperkirakan cukup tinggi. “Kalau melihat kerusakan itu, pasti di sana memang konsentrasinya cukup. Berarti ada maksudnya gini, kan untuk bisa meruntuhkan suatu gedung, tenaga yang diperlukan cukup. Tenaga itu darimana Ya dari ada sesuatu yang terbakar di sana kira-kira begitu. Jadi artinya, kekuatan yang terjadi, dampak seperti ini berarti langsung berkolerasi dengan jumlah yang ada di sana yang bisa terbakar itu,” jelas Roy.

Tanda-tanda Kebakaran

Meskipun ditemukan tanda-tanda area terbakar di dalam rumah, material bangunan yang terbakar hingga menjadi arang tidak ada. “Tentang itu ada (tanda-tanda terbakar). Maksudnya, kalau misalnya seperti arang tidak. Tidak mungkin, karena ini kan hanya serta-merta saja, gitu,” ujar Roy. Pihak forensik telah membawa beberapa sampel untuk penyelidikan lebih lanjut.

Baca juga:

Korban Jiwa

Ledakan yang terjadi sekitar pukul 15.30 WIB itu mengakibatkan tujuh korban, dengan rincian tiga orang tewas dan empat orang selamat. Seluruh korban telah dievakuasi. Hingga saat ini, penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti dan kemungkinan adanya faktor lain.