Media Kampung, Tangerang Selatan — Musim kemarau menyebabkan kekeringan di 16.485 hektare wilayah Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Sebanyak 22 kepala keluarga (KK) di Kampung Koceak, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, mengalami krisis air bersih setelah sumur warga mengering.

“Dampak kemarau sudah muncul di Kampung Koceak, Keranggan, Kecamatan Setu yang langganan kekeringan. Luas total yang terkena bahaya kekeringan yaitu 16.485,47 hektare,” ujar Sekretaris BPBD Kota Tangsel, Essa Nugraha Sudjana, Sabtu 11 Juli 2026.

Kecamatan Setu menjadi wilayah paling rawan terdampak kemarau. Meski termasuk kelas sedang, luas bahaya rendah mencapai 1.246,23 hektare dan bahaya sedang 432,09 hektare.

Menurut Essa, BMKG memprediksi musim kemarau kali ini lebih kering dibandingkan 30 tahun terakhir. “Tangsel awal bulan Juli ini sudah masuk dan sudah ada yang terkena dampak dari kemarau tersebut,” katanya.

Komandan Peleton Satgas BPBD Kota Tangsel, Dian Wiryawan, menyatakan kekeringan berdampak pada pasokan air bersih. Sebanyak 22 KK di Kampung Koceak, RT 002 RW 01, Kelurahan Keranggan, kesulitan mendapatkan air bersih setelah sumur warga mengering.

“BPBD Tangsel pun menyalurkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga sehari-hari. Dampak kekeringan akibat sumur yang mulai mengering,” ucapnya.

Warga mulai kesulitan memperoleh air bersih sejak empat hari terakhir. BPBD mendistribusikan 4.000 liter air bersih untuk kebutuhan memasak, mandi, mencuci, dan keperluan rumah tangga lainnya. Air bersih dipasok dengan dukungan PDAM Tirta Kerta Raharja Kabupaten Tangerang dan didistribusikan menggunakan mobil tangki milik Pemerintah Kota Tangsel.

Dian menambahkan, distribusi air dilakukan melalui dua tandon berkapasitas masing-masing 2.000 liter agar warga lebih mudah mengambil air sesuai kebutuhan.