Media Kampung – Hampir setiap kali Indonesia memiliki menteri pendidikan baru, pertanyaan yang sama kembali mencuat: apakah kurikulum akan berubah lagi? Pertanyaan ini seolah menjadi siklus pendidikan nasional. Guru bersiap menyesuaikan perangkat pembelajaran, sekolah mengantisipasi perubahan administrasi, sementara orang tua dan peserta didik kembali berusaha memahami istilah-istilah baru.

Perubahan Kurikulum: Antara Kebutuhan dan Tradisi

Perubahan kurikulum sejatinya bukan hal yang keliru. Pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Kurikulum yang tidak pernah diperbarui berisiko tertinggal dari zaman. Namun, ketika perubahan datang terlalu sering dan beriringan dengan pergantian kepemimpinan, wajar muncul pertanyaan: apakah perubahan ini benar-benar didasarkan pada kebutuhan pendidikan, atau justru menjadi identitas kebijakan setiap pemerintahan?

Sejak Indonesia merdeka, kurikulum telah berganti berkali-kali: dari Rencana Pelajaran 1947 hingga Kurikulum Merdeka yang mulai diterapkan pada 2022. Setiap perubahan lahir dengan semangat berbeda—ada yang menitikberatkan pada pembentukan karakter, ada yang berorientasi pada kompetensi, ada pula yang menekankan fleksibilitas dan profil peserta didik. Kurikulum bukan sekadar dokumen akademik, melainkan cerminan arah bangsa melalui pendidikan.

Ironi: Energi Habis untuk Penyesuaian, Bukan Kualitas

Persoalannya, perubahan kurikulum sering kali lebih ramai dibandingkan evaluasi pelaksanaannya. Energi pendidikan habis untuk menyesuaikan istilah, perangkat ajar, dan sistem asesmen baru, sementara pertanyaan mendasar luput: apakah perubahan itu benar-benar meningkatkan kualitas belajar di kelas?

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan skor literasi membaca, matematika, dan sains Indonesia tetap menurun dibandingkan 2018, meskipun posisi relatif membaik karena banyak negara mengalami penurunan lebih tajam akibat pandemi. Kondisi ini mengingatkan bahwa tantangan pendidikan tidak selesai hanya dengan mengganti kurikulum. Kualitas pembelajaran jauh lebih kompleks.

Beban Guru dan Kesenjangan yang Tak Kunjung Selesai

Guru menjadi kelompok yang paling merasakan dampak setiap perubahan. Mereka dituntut memahami pendekatan baru, menyesuaikan perangkat ajar, mengubah sistem penilaian, dan mengikuti pelatihan dalam waktu singkat. Adaptasi adalah bagian dari profesionalisme, namun ketika perubahan terlalu cepat, energi yang seharusnya untuk peningkatan kualitas habis untuk urusan administratif.

Di sisi lain, tantangan pendidikan Indonesia lebih besar dari sekadar kurikulum. Kesenjangan kualitas antara daerah perkotaan dan pelosok, pemerataan guru, fasilitas belajar, dan akses teknologi masih menjadi masalah. Mengganti kurikulum saja tidak akan otomatis memperbaiki kualitas jika persoalan mendasar ini belum terselesaikan.

Yang Dibutuhkan: Konsistensi, Bukan Perubahan Terus-Menerus

Yang dibutuhkan bukan sekadar kebijakan baru, melainkan komitmen memastikan kebijakan yang ada berjalan optimal. Kurikulum perlu dievaluasi secara berkala berdasarkan hasil implementasi nyata, bukan karena pergantian kepemimpinan. Pendidikan adalah proses jangka panjang; dampaknya baru terlihat setelah bertahun-tahun. Memberi waktu bagi sebuah kebijakan untuk diterapkan, dievaluasi, dan disempurnakan adalah bagian dari membangun sistem pendidikan yang matang.

Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa sering kurikulum berganti, melainkan oleh konsistensi arah kebijakan. Peserta didik tidak membutuhkan perubahan terus-menerus, tetapi kepastian belajar dalam sistem yang stabil, didukung guru yang siap, dan lingkungan belajar yang memadai. Yang akan mereka ingat bukan nama kurikulum, melainkan pengalaman belajar yang membentuk cara berpikir dan masa depan mereka.

Maka, ketika wacana perubahan kurikulum kembali muncul setiap pergantian kepemimpinan, mungkin sudah saatnya mengajukan pertanyaan berbeda: bukan “Kurikulum apa yang akan datang?”, melainkan “Apakah kebijakan yang telah dijalankan sudah benar-benar diberi kesempatan membuktikan hasilnya?” Pendidikan tidak membutuhkan perubahan demi perubahan, melainkan keberanian menjaga kesinambungan agar setiap kebijakan memiliki kesempatan tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi generasi mendatang.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.