Media Kampung – Selama ini, kurikulum sering dianggap sebagai pedoman pembelajaran yang netral dan objektif. Namun, anggapan itu mulai dipertanyakan: apakah benar kurikulum bebas dari kepentingan? Faktanya, setiap materi, nilai, dan pengetahuan yang diajarkan di sekolah merupakan hasil keputusan sosial, politik, dan budaya. Kurikulum tak pernah polos—ia selalu lahir dari konteks sosial yang melingkupinya.
Kurikulum dan Kepentingan Sosial
Kurikulum bukan sekadar kumpulan mata pelajaran. Di balik susunannya, terdapat proses pemilihan pengetahuan yang dianggap penting. Sosiolog pendidikan Michael Apple, dalam karya klasiknya Ideologi dan Kurikulum (1979) dan Pengetahuan Resmi, berpendapat bahwa kurikulum selalu merupakan bagian dari tradisi selektif seseorang—visi kelompok tertentu tentang pengetahuan yang sah. Kelompok yang memiliki pengaruh lebih besar cenderung menentukan pengetahuan apa yang layak diajarkan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk nilai dan cara pandang peserta didik.
Michael Apple dan Mitos Netralitas Kurikulum
Michael Apple adalah tokoh sosiologi pendidikan yang mengkritisi anggapan netralitas kurikulum. Menurutnya, pengetahuan yang diajarkan di sekolah bukanlah sesuatu yang alami, melainkan hasil seleksi sosial oleh kelompok dominan. Ketika kurikulum dianggap objektif, proses seleksi tersebut menjadi sulit dipertanyakan. Akibatnya, dominasi nilai tertentu terselubung di balik materi pembelajaran dan dianggap wajar. Padahal, tujuan pendidikan adalah membentuk pemikiran kritis, tetapi jika pengetahuan sejak awal dibatasi kepentingan, bagaimana peserta didik bisa berpikir kritis?
Melampaui Mitos Netralitas Pendidikan
Di balik kurikulum yang tampak objektif, tersimpan kepentingan sosial yang menentukan arah pendidikan. Mitos netralitas bukan sekadar perdebatan akademik, melainkan realitas yang memengaruhi cara peserta didik memahami dunia. Sekolah tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga arena pewarisan nilai, ideologi, dan cara pandang tertentu dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kurikulum tidak pernah benar-benar polos karena ia lahir dari konteks sosial.
Memahami bahwa pendidikan tidak netral bukan berarti menolak kurikulum, melainkan mengajak kita lebih kritis terhadap proses pembentukannya. Kurikulum adalah cerminan relasi kekuasaan, nilai budaya, dan kepentingan sosial. Pendidikan yang seharusnya membebaskan cara berpikir bisa kehilangan makna jika tidak memberi ruang untuk mempertanyakan pengetahuan yang dianggap benar. Jika kita terus mempertahankan mitos netralitas, sekolah hanya akan menjadi tempat reproduksi gagasan yang diwariskan tanpa pernah dipertanyakan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan