Media Kampung – Perguruan tinggi sejak awal berdiri memiliki fungsi utama sebagai tempat mencari ilmu. Namun, seiring perjalanan sejarah, institusi ini mengalami perluasan fungsi menjadi prasarana politik kaum elite dan produsen tenaga kerja bagi industri. Perubahan fungsi ini tercermin dalam sejarah panjang pendidikan tinggi dari masa Yunani Kuno hingga era modern.
Pada awalnya, pendidikan tinggi murni bersifat akademik. Akademi Plato di Athena (387 SM) mengajarkan filsafat untuk membentuk negarawan bijak. Mahawihara Nalanda di India (427 M) menjadi universitas residensial pertama yang mengajarkan berbagai ilmu dan menyebarkan agama Buddha ke Asia. Keduanya tutup karena invasi, namun menunjukkan bahwa fungsi awal perguruan tinggi adalah pengembangan ilmu pengetahuan.
Memasuki abad pertengahan, perguruan tinggi mulai digunakan sebagai alat politik. Gavan Butler (2007) dan Noam Yuchtman (2025) mencatat bahwa universitas berperan dalam membentuk dan mempertahankan elite. Di Inggris, Oxford dan Cambridge mendukung propaganda Perang Seratus Tahun dan kemudian menyiapkan elite untuk mengelola koloni. Di Prancis, Napoleon mendirikan Grandes Écoles untuk mengindoktrinasi rakyat sesuai kepentingan negara. Di Jepang era Meiji, universitas diminta membina elite dan merahasiakan ilmu non-teknis, yang memicu fasisme.
Revolusi Industri Pertama (1760-1840) mengubah orientasi perguruan tinggi menjadi lebih market-oriented. Peningkatan pabrik dan tambang menuntut tenaga terdidik seperti insinyur, manajer, dan dokter. Di AS, jurusan teknik dan bisnis muncul untuk pertama kalinya. Di Inggris, universitas “bata merah” didirikan untuk membekali pemuda dengan keterampilan bisnis lokal. Setelah Perang Dunia II, akses pendidikan tinggi diperluas untuk mendukung ekspansi industri pascaperang.
Fenomena ini disebut marketisasi universitas, yaitu transformasi institusi pendidikan menjadi entitas berorientasi pasar. Meski demikian, fungsi akademik tetap utama, sementara fungsi elite dan industri bersifat tambahan. Saat ini, perguruan tinggi terus beradaptasi dengan revolusi industri keempat, menuntut keseimbangan antara tradisi akademik dan kebutuhan pasar.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan