Media Kampung – Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah tidak boleh dipandang semata sebagai program pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program ini harus menjadi instrumen pengentasan kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Hal itu disampaikan Kepala Pusat Pengembangan Desa dan Daerah LPPM Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Mufahrrihul Hasin, saat menjadi narasumber dalam dialog Aspirasi di Pro1 RRI Surabaya, Selasa, 9 Juni 2026. Menurutnya, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak cukup diukur dari jumlah gedung yang dibangun, fasilitas yang disediakan, maupun besarnya anggaran yang dialokasikan pemerintah.
Ukuran utama keberhasilan program adalah sejauh mana Sekolah Rakyat mampu meningkatkan kualitas hidup peserta didik dan membantu menurunkan angka kemiskinan. “Ketika kita berbicara tentang dana yang besar dan pemerintah mengalokasikan anggaran yang besar untuk Sekolah Rakyat, maka program ini harus dilihat sebagai instrumen pengentasan kemiskinan. Sekali lagi, ini bukan hanya soal pendidikan, tetapi instrumen dalam pengentasan kemiskinan,” ujar Hazin, sapaan akrab narasumber.
Hazin menilai pengawasan terhadap pelaksanaan program menjadi penting untuk memastikan manfaat Sekolah Rakyat benar-benar diterima oleh kelompok sasaran, yakni anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Ia mengingatkan, tantangan terbesar dari program dengan dukungan anggaran besar sering kali bukan terletak pada pelaksanaannya, melainkan pada efektivitas penggunaan anggaran dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pembahasan mengenai efektivitas program menjadi penting mengingat pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp24,9 triliun untuk mendukung penyelenggaraan dan pengembangan Program Sekolah Rakyat. “Banyak program dengan biaya besar, persoalannya bukan pada pelaksanaannya, tetapi pada efektivitas penggunaannya. Apakah dana yang digunakan benar-benar memberikan dampak sesuai tujuan yang ingin dicapai,” katanya.
Ia menjelaskan, pengelolaan Program Sekolah Rakyat perlu mengacu pada prinsip value for money yang mencakup tiga aspek utama, yakni ekonomis, efisiensi, dan efektivitas. Aspek ekonomis berkaitan dengan pembangunan gedung, pengadaan fasilitas, dan kebutuhan pendukung lainnya yang harus dilakukan secara wajar serta sesuai standar.
Aspek efisiensi menyangkut bagaimana anggaran yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal, termasuk dalam penyediaan tenaga pendidik, fasilitas pembelajaran, serta operasional program. Sementara itu, aspek efektivitas menjadi ukuran paling penting karena berkaitan langsung dengan tercapai atau tidaknya tujuan utama program.
“Yang paling penting adalah efektivitasnya. Apakah dengan anggaran yang telah dialokasikan, tujuan utama Sekolah Rakyat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengentaskan kemiskinan bisa tercapai atau tidak,” ujar Hazin.
Menurut Hazin, investasi negara melalui Program Sekolah Rakyat harus menghasilkan dampak jangka panjang berupa peningkatan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, keberhasilan program tidak cukup dilihat dari jumlah sekolah yang berdiri atau jumlah peserta didik yang diterima, tetapi juga dari kemampuan lulusan untuk melanjutkan pendidikan, memiliki keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja, serta meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Ia berharap seluruh pemangku kepentingan terus mengawal pelaksanaan Sekolah Rakyat agar tetap berorientasi pada tujuan besarnya, yakni menciptakan generasi yang lebih berdaya saing sekaligus memutus rantai kemiskinan antargenerasi di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan