Media Kampung – Segmen gaming Bukalapak melalui Multi Realm Games (MRG) mencatat pendapatan Rp2,1 triliun pada kuartal I 2026, hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,1 triliun. Capaian ini menjadikan gaming sebagai salah satu pilar pertumbuhan utama grup Bukalapak sekaligus mendorong ekspansi MRG ke lebih dari 15 negara.

Dalam pertemuan dengan media pada 22 Juli, AVP Gaming Growth International Business Multi Realm Games, Hendi, menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut didorong oleh perubahan perilaku konsumen digital yang menjadikan gaming sebagai bagian dari gaya hidup, terutama generasi muda. “Kalau dulu orang hidup tanpa gaming itu biasa. Sekarang, game sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Itu yang membuat konsumsi digital, termasuk transaksi di dalam game, terus bertumbuh,” ujarnya.

Baca juga:

Multi Realm Games: Bukan Sekadar Marketplace Gaming

Hendi menekankan bahwa MRG berbeda dengan marketplace tradisional. Jika marketplace hanya mempertemukan penjual dan pembeli, MRG mengendalikan pengalaman pengguna secara end-to-end, mulai dari pembayaran hingga distribusi produk digital. “Kami mengontrol experience secara end-to-end. Karena itu pendekatannya berbeda dengan marketplace biasa,” jelasnya. Model ini memungkinkan MRG membangun ekosistem yang lebih luas, termasuk kerja sama langsung dengan publisher game, penyedia pembayaran, dan platform digital lainnya.

Berdasarkan company profile perusahaan, MRG menggabungkan platform top-up, marketplace item digital, serta mesin ekspansi global dalam satu ekosistem yang mendukung seluruh siklus transaksi gaming. Perusahaan juga telah terhubung dengan lebih dari 70 metode pembayaran lintas negara.

Baca juga:

Ekspansi ke Pasar Internasional

Salah satu fokus utama MRG adalah memperluas jangkauan internasional. Saat ini MRG telah beroperasi di lebih dari 15 negara, meliputi Asia Tenggara, Amerika Latin, Timur Tengah, Eropa, hingga Amerika Utara. Menurut Hendi, tantangan terbesar ekspansi adalah pembayaran dan lokalisasi karena perilaku konsumen yang berbeda di setiap negara. “Gaming itu borderless. Yang paling penting adalah payment dan bagaimana kita melakukan lokalisasi di setiap negara,” katanya. Kawasan Amerika Latin menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan menarik, di mana nilai transaksi per pengguna cenderung lebih tinggi meskipun jumlah transaksi tidak sebesar Indonesia.

Mobile Gaming Mendominasi

Di Indonesia, transaksi gaming masih didominasi oleh game mobile. Hendi mengatakan ekosistem mobile memiliki volume transaksi jauh lebih besar dibandingkan PC maupun konsol karena tingginya frekuensi pembelian item digital dan microtransaction. MRG tetap melayani berbagai platform lain seperti Steam, PlayStation Network, Xbox, Nintendo eShop, hingga layanan gift card digital. Perusahaan juga mendukung puluhan judul game populer, mulai dari Mobile Legends, Free Fire, PUBG Mobile, Roblox, Valorant, Genshin Impact, hingga Call of Duty Mobile.

Baca juga:

Mendorong Game Lokal Tembus Pasar Dunia

Selain bisnis komersial, MRG mulai aktif mendukung pengembang game lokal melalui kolaborasi dengan pemerintah dan komunitas industri. Meskipun kontribusi game lokal terhadap total transaksi masih kecil, Hendi melihat antusiasme developer Indonesia terus meningkat. “Kalau saya lihat antusiasme developer Indonesia sudah jauh lebih baik. Memang porsinya masih kecil, tapi perkembangannya cukup positif,” ujarnya. Langkah ini sejalan dengan visi MRG membangun ekosistem gaming terpadu yang menghubungkan gamer, publisher, brand, dan pengembang game dalam satu platform global.

Dengan pertumbuhan pendapatan yang hampir dua kali lipat dalam setahun dan strategi ekspansi yang agresif, MRG tidak lagi sekadar unit bisnis pendukung Bukalapak. Perusahaan mulai memosisikan diri sebagai pemain regional yang ingin membawa ekosistem gaming Indonesia bersaing di pasar global sekaligus menangkap peluang ekonomi digital yang terus berkembang.