Media Kampung – Anggota Komisi VII DPR RI, Eva Monalisa, menegaskan bahwa pendidikan kewirausahaan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tidak boleh hanya berfokus pada teori semata. Ia mengingatkan pemerintah agar menyelaraskan pendidikan tersebut dengan akses pembiayaan, pendampingan bisnis yang berkelanjutan, serta perluasan jaringan pasar agar pengusaha UMKM dapat bersaing lebih efektif di tingkat regional.

Dalam pernyataannya di Jakarta pada Rabu, 27 Mei 2026, Eva yang juga anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR ini menilai bahwa tantangan utama UMKM Indonesia bukan sekadar keterbatasan modal, melainkan juga lemahnya akses pasar dan kurangnya pendampingan yang membimbing pelaku usaha secara sistematis. Ia mencontohkan kondisi di mana banyak UMKM sudah memiliki produk dan modal, tetapi kesulitan dalam memasarkan produknya karena minimnya bimbingan dan jaringan pasar yang memadai.

Eva menekankan bahwa keberhasilan pengembangan kewirausahaan harus didukung oleh kebijakan yang terintegrasi, mencakup pelatihan, akses pembiayaan, dan konektivitas pasar. “Pendidikan kewirausahaan tidak boleh berhenti di teori. Harus terintegrasi dengan akses pembiayaan, inkubasi bisnis, dan konektivitas pasar agar benar-benar melahirkan wirausahawan yang siap bersaing,” ujarnya.

Lebih lanjut, Eva membandingkan kondisi UMKM di Indonesia dengan negara-negara tetangga seperti Vietnam yang dinilai lebih maju dalam membangun ekosistem usaha menyeluruh. Ia mengajak pemerintah untuk lebih aktif menciptakan lingkungan yang mendukung UMKM agar dapat naik kelas dan mampu bersaing secara global.

Konteks pendampingan usaha juga terlihat di Kabupaten Ngada, di mana proses pendampingan dilakukan bertahap mulai dari aspek legalitas hingga pengembangan pemasaran digital. Chrismas Adrianus Uwa, Navigator UMKM Digital Ngada, mengungkapkan bahwa banyak pelaku UMKM sebenarnya memiliki potensi tetapi belum terbiasa menggunakan teknologi digital. Oleh karena itu, kehadiran lembaga pendamping seperti Rumah BUMN sangat penting untuk menjembatani kesenjangan tersebut.

Dalam upaya memperkuat kemampuan pemasaran digital, para pelaku usaha di Ngada mendapatkan pelatihan teknis seperti fotografi produk dan penggunaan aplikasi sederhana untuk menyunting foto serta video. Pendampingan ini juga menyasar perubahan pola pikir agar para pelaku usaha lebih percaya diri tampil mempromosikan produknya secara online, sebuah langkah penting dalam menghadapi era ekonomi digital.

Perubahan perilaku pelaku usaha yang mulai aktif memanfaatkan internet untuk mencari pasar menunjukkan keberhasilan adaptasi digital. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan pembeli yang datang ke toko fisik, melainkan mulai menjangkau konsumen melalui platform daring. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendamping, dan pelaku usaha menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhan UMKM.

Dengan sinergi tersebut, diharapkan pendidikan kewirausahaan yang bersifat praktis dan terintegrasi dapat menjadi fondasi bagi UMKM untuk tumbuh dan naik kelas, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.