Media KampungPemerintah memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman terjaga di tengah gejolak global. Stok pupuk nasional saat ini mencapai 1,19 juta ton, sebagaimana disampaikan dalam Rembuk Tani di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat, 5 Juni 2026.

Stok tersebut terdiri dari 825 ribu ton pupuk bersubsidi dan 367 ribu ton pupuk non-subsidi. Secara nasional, alokasi pupuk bersubsidi tahun 2026 mencapai 9,84 juta ton, dengan 9,55 juta ton dialokasikan untuk sektor pertanian.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa pasokan pupuk aman. “Tahun ini insyaallah pupuk kita aman, kita siapkan 9,8 juta ton. Pemerintah terus memantau ketersediaan pupuk di berbagai daerah,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Menko Pangan mendapat arahan langsung dari Presiden untuk mengawasi distribusi pupuk agar berjalan lancar. Hingga kini, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi telah melampaui 4 juta ton, dan distribusi terus dipercepat sesuai kebutuhan musim tanam petani.

Di Kalimantan Barat, penyaluran pupuk bersubsidi mencapai 81.657 ton, setara 44 persen dari total alokasi provinsi. Pemerintah juga menyederhanakan tata kelola pupuk bersubsidi melalui pemangkasan regulasi untuk mempercepat penyaluran hingga tingkat petani.

Konflik di Timur Tengah dipastikan tidak mengganggu pasokan pupuk nasional. Harga Eceran Tertinggi pupuk bersubsidi tetap stabil. Selain itu, pemerintah menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp6.500 per kilogram. “Petani tidak boleh terus merugi, petani harus mendapatkan kepastian harga,” ujar Zulkifli.

Rembuk Tani menjadi ruang dialog antara pemerintah dan petani, dimanfaatkan untuk menyerap aspirasi sektor pertanian.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.