Media Kampung – Komitmen Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama Yayasan SINTAS Indonesia dan Kementerian Kehutanan menghasilkan survei populasi Macan Tutul Jawa yang dinamakan Java‑Wide Leopard Survey (JWLS). Survei ini bertujuan memetakan jumlah dan distribusi predator puncak di Pulau Jawa agar langkah pelestarian dapat dirancang berdasarkan data nyata.

BLDF memulai upaya konservasi di Gunung Muria pada 2006 dengan menanam ratusan ribu pohon, mengurangi jejak karbon, dan melindungi kawasan rawan bencana. Seiring waktu, pemilik program menyadari bahwa menjaga habitat sebaiknya juga melindungi makhluk yang tinggal di dalamnya, termasuk Macan Tutul Jawa.

“Kita mulai menanam pohon di Gunung Muria karena daerah itu kering dan gersang, lalu kita belajar bahwa tempat itu juga rumah bagi Macan Tutul Jawa,” kata Program Director BLDF, Jemmy Chayadi, pada acara bincang di Ashta District 8. Ia menekankan pentingnya predator puncak bagi keseimbangan ekosistem dan potensi dampak negatif jika spesies ini punah.

Data dari Yayasan SINTAS menunjukkan populasi Macan Tutul Jawa di alam liar berkurang drastis, berakhir pada sekitar 350 individu dewasa pada 2025. Ancaman utama berasal dari alih fungsi lahan dan konflik dengan manusia, yang mengancam keberlanjutan habitat alami spesies ini.

Untuk mengetahui populasi di Gunung Muria, BLDF dan Yayasan SINTAS menggunakan kamera jebak di 40 titik observasi seluas 160 km². Hasilnya mengidentifikasi 14 ekor Macan Tutul Jawa, terdiri dari 5 jantan dan 9 betina. Keberhasilan ini menjadi dasar perencanaan survei lebih luas di seluruh Jawa.

JWLS diluncurkan pada 2024 dengan rencana memasang lebih dari 600 kamera jebak di 1.200 titik di Pulau Jawa. Penelitian ini juga mengumpulkan sampel kotoran satwa untuk mengetahui preferensi makanan. Sampai saat ini, tim telah mengidentifikasi 34 ekor Macan Tutul Jawa, 11 jantan dan 23 betina, di wilayah yang sudah disurvei.

Direktur Yayasan SINTAS, Hariyo T. Wibisono, menjelaskan bahwa pemasangan kamera masih berlanjut. Dari 1.200 titik yang direncanakan, sekitar 1.000 telah terpasang, dan diharapkan selesai pada Juli 2026. Ia optimis dapat mengidentifikasi lebih dari 100 individu setelah survei selesai.

BLDF tidak hanya bekerja dengan Yayasan SINTAS dan pemerintah, melainkan juga melibatkan tujuh perusahaan lain untuk memperluas jangkauan program JWLS ke wilayah Sindoro Sumbing hingga Merapi Merbabu. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pelestarian spesies memerlukan sinergi lintas sektor.

Jemmy menegaskan bahwa upaya di Gunung Muria dapat menjadi contoh bagi pihak lain. Ia mengajak semua pemangku kepentingan—pemerintah, perusahaan, dan generasi muda—untuk meningkatkan kesadaran, data, dan ilmuwan muda yang mendukung perjuangan pelestarian Macan Tutul Jawa.

Dengan komitmen yang terus berlanjut, BLDF berharap bahwa Macan Tutul Jawa tidak lagi terancam punah, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem yang mendukung kehidupan manusia di Pulau Jawa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.