Media Kampung – 16 April 2026 | Pemkab Jember menekankan dorongan kolaborasi antara Perhutani dan PTPN untuk menekan kemiskinan ekstrem di wilayahnya, sebagaimana disampaikan oleh Bupati Muhammad Fawait pada 14 April 2026.
Bupati mengungkapkan bahwa meskipun data menunjukkan tren penurunan, angka kemiskinan ekstrem masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Konsentrasi kemiskinan tersebut paling tinggi di daerah pinggiran hutan dan perkebunan, yang memerlukan penanganan khusus.
“Kita tahu bahwa kemiskinan di Kabupaten Jember menjadi masalah yang dalam 10 tahun terakhir ini belum terselesaikan. PR‑nya kemiskinan di pinggir hutan dan kebun,” ujar Bupati Fawait.
Bupati menilai keberadaan dua BUMN, Perhutani dan PTPN, dapat memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar bila dikelola secara pro‑rakyat.
Ia menyebut adanya potensi lahan hutan sosial seluas 36‑38 ribu hektare yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi kemiskinan ekstrem.
Jika lahan tersebut dibagikan satu hektare per kepala keluarga, perkiraan Bupati menunjukkan sekitar 38‑40 ribu keluarga dapat keluar dari kemiskinan ekstrem.
Pengelolaan lahan milik PTPN, baik di kawasan perkebunan maupun di daerah perkotaan, diharapkan melibatkan tenaga kerja lokal sebagai upaya peningkatan pendapatan.
Kawasan perkotaan yang dikuasai PTPN berpotensi dikembangkan menjadi pusat kegiatan ekonomi informal, sehingga dapat menambah peluang kerja bagi warga miskin.
Pemkab Jember juga meminta pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kehutanan dan Perhutani, meningkatkan koordinasi untuk memastikan program hutan sosial tepat sasaran berdasarkan data kemiskinan daerah.
Dengan sinergi yang lebih kuat dan optimalisasi pemanfaatan lahan, pemerintah daerah optimistis upaya penurunan kemiskinan ekstrem di Jember dapat dipercepat dalam waktu dekat.
Meskipun laju penurunan kemiskinan di Jember termasuk yang tercepat di Provinsi Jawa Timur dan tertinggi di wilayah Tapal Kuda, Bupati menegaskan bahwa capaian tersebut belum memadai untuk mengatasi kelompok paling rentan.
Ia menekankan bahwa fokus ke depan harus diarahkan pada keluarga yang masih berada di desil satu, dengan mengintegrasikan program pertanian berkelanjutan, pelatihan keterampilan, dan akses pasar bagi produk lokal.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan