Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam ke level 5.734,25 pada jeda perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Indeks turun 206 poin atau 3,48 persen dari posisi pembukaan di level 5.919, dengan tekanan jual yang kuat sejak awal sesi.
Sepanjang sesi pertama, IHSG bergerak di zona merah dan sempat menyentuh level terendah di 5.644, setelah tertinggi di 5.924. Volume transaksi tercatat mencapai 22,845 miliar saham dengan nilai transaksi Rp12,738 triliun, menunjukkan tingginya aktivitas perdagangan di tengah pelemahan.
Sebanyak 683 saham melemah, sementara hanya 63 saham menguat dan 62 saham stagnan. Mayoritas saham berkapitalisasi besar menjadi motor penurunan, terutama saham perbankan seperti BBCA, BBRI, dan TLKM yang mengalami pelemahan signifikan.
Analis Mirae Asset menyoroti bahwa tekanan terkonsentrasi pada saham fundamental besar dengan kepemilikan asing tinggi. Menurut tim analis, secara teknikal IHSG sudah berada dalam kondisi jenuh jual ekstrem berdasarkan indikator RSI.
Pelemahan rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS turut memperberat tekanan pasar. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi pelebaran defisit neraca perdagangan Indonesia ke depan.
Sementara itu, Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai level 5.900 menjadi area kritis. Jika IHSG ditutup di bawah level tersebut, indeks berpotensi menguji support berikutnya di rentang 5.750 hingga 5.840.
Phintraco juga mencermati kenaikan harga minyak dunia yang kembali memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan peluang Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan, terutama jika rupiah terus melemah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan