Media Kampung – Beragam emiten di Indonesia kini gencar melakukan hak memesan efek terlebih dulu (right issue) untuk memperkuat struktur permodalan menjelang akhir kuartal.
Tren ini dipicu oleh kebutuhan likuiditas dan persaingan industri yang semakin ketat, terutama di sektor asuransi digital dan teknologi finansial.
Data IDX per 19 April 2026 mencatat lebih dari 30 perusahaan telah mengumumkan rencana right issue, dengan total penawaran mencapai ratusan juta saham.
PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) menjadi contoh utama, mengusulkan penerbitan 684,9 juta saham baru dengan harga pelaksanaan Rp100 per saham.
Direktur Keuangan YOII, Randy Tandra, menjelaskan bahwa aksi korporasi ini ditujukan untuk mendukung ekspansi produk asuransi berbasis gaya hidup.
Randy menambahkan, rasio solvabilitas atau Risk Based Capital (RBC) YOII per 2025 tercatat 1.036%, jauh di atas batas minimum OJK sebesar 120%.
Right issue memberi hak kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru secara proporsional sebelum ditawarkan ke publik.
Dengan harga pelaksanaan Rp100, penerbitan saham baru diproyeksikan menghimpun dana sekitar Rp68,49 miliar.
Pendanaan tersebut diperkirakan akan menaikkan ekuitas YOII dari Rp211 miliar menjadi antara Rp260 hingga Rp270 miliar.
Dalam proses alokasi, dua pemegang saham utama memutuskan tidak mengeksekusi seluruh haknya dan menyerahkannya ke Qoala Technology Pte. Ltd.
Qoala berjanji akan menyerap seluruh hak yang dialihkan, bahkan bersedia menambah porsi bila masih ada sisa saham yang belum terpakai.
Penggunaan dana right issue diarahkan sekitar 90% untuk memperkuat pemasaran, distribusi, dan brand awareness di seluruh Indonesia.
Sisa 10% alokasi difokuskan pada pengembangan teknologi, termasuk pembangunan data center, keamanan siber, dan pelatihan sumber daya manusia.
Strategi ini sejalan dengan tujuan YOII untuk meningkatkan penetrasi asuransi digital melalui analitik risiko berbasis AI.
Keunggulan lain dari right issue adalah harga pelaksanaan yang biasanya lebih rendah daripada harga pasar, memberikan diskon bagi pemegang saham lama.
Diskon ini menambah insentif bagi investor untuk mempertahankan atau meningkatkan kepemilikan mereka tanpa harus membeli di pasar sekunder.
Selain itu, right issue memungkinkan perusahaan mempertahankan kontrol kepemilikan karena hak beli diberikan secara proporsional.
Dengan meningkatkan modal, perusahaan dapat memperbaiki rasio solvabilitas yang menjadi indikator kesehatan keuangan di mata regulator.
Setelah pengumuman, indeks IDXINDUST naik 1,46% dan IDXSMC-LIQ naik 0,49%, menandakan respon positif pasar terhadap aksi korporasi.
Investor institusional menunjukkan minat tinggi, terutama pada sektor asuransi digital yang diproyeksikan tumbuh lebih dari 15% tahun depan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa proses right issue harus memenuhi persyaratan transparansi dan perlindungan investor.
Jadwal pelaksanaan YOII dimulai pada 22 April 2026 dan berakhir pada 29 April 2026, dengan periode pencatatan hak selama tiga hari kerja.
Jika seluruh hak dieksekusi, perusahaan akan menutup hak penawaran pada 30 April 2026 dan melaporkan hasil pengumpulan dana pada akhir bulan.
Kondisi terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 80% hak telah dieksekusi, menandakan keberhasilan aksi korporasi di tahap awal.
Para analis memperkirakan bahwa peningkatan modal akan mempercepat peluncuran produk asuransi mikro dan meningkatkan daya saing YOII di pasar regional.
Dengan modal tambahan, YOII siap memperluas jaringan mitra digital, memperkuat posisi di segmen asuransi kesehatan dan kendaraan bermotor.
Secara keseluruhan, right issue menjadi mekanisme efektif bagi emiten Indonesia untuk mengoptimalkan struktur permodalan sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan industri.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan