Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan sebesar 8,35 persen selama pekan perdagangan 18-22 Mei 2026. Penurunan ini menempatkan IHSG di level 6.162, jauh di bawah posisi pekan sebelumnya yang mencapai 6.723. Dampak dari koreksi ini juga terlihat pada kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) yang susut hingga 10,07 persen menjadi Rp 10.635 triliun dari Rp 11.825 triliun.
Pergerakan pasar modal yang melemah tersebut dipengaruhi oleh berbagai sentimen negatif baik dari dalam negeri maupun global. Menurut analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, faktor utama yang menekan IHSG antara lain adalah aksi jual investor asing yang cukup besar, terutama setelah beberapa emiten dikeluarkan dari konstituen MSCI dan FTSE. Selain itu, kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih cenderung hawkish akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah turut memperberat sentimen pasar.
Tekanan lain datang dari dalam negeri berupa kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin yang bertujuan menstabilkan nilai tukar rupiah. Namun, langkah ini juga membawa dampak negatif terhadap pasar saham. Regulasi pemerintah yang mengatur tata niaga ekspor komoditas juga menjadi salah satu faktor yang menekan harga saham sektor komoditas sehingga memperburuk kondisi pasar saham secara keseluruhan.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, mengungkapkan bahwa meskipun IHSG mengalami koreksi dalam pekan lalu hingga 8,5 persen, indikator teknikal menunjukkan adanya potensi pembalikan arah pasar. Indikator Relative Strength Index (RSI) yang sudah memasuki zona oversold menandakan pasar mulai memasuki fase konsolidasi kritis dan berpeluang rebound dalam jangka pendek. Namun, volatilitas yang tinggi masih menjadi tantangan bagi pelaku pasar.
Pergerakan IHSG pada pekan ini diperkirakan akan berada dalam rentang support di level 5.909 dan resistance di level 6.305. Kondisi ini menandakan bahwa meski ada peluang penguatan, ruang gerak pasar masih terbatas dan rawan koreksi lebih lanjut akibat sentimen eksternal dan internal yang belum mereda.
Sejumlah sektor saham juga mengalami tekanan cukup dalam selama pekan lalu. Sektor energi turun hingga 13,68 persen, sektor bahan dasar melemah 16,31 persen, serta sektor industri turun 11,7 persen. Sektor konsumer non-siklikal dan konsumer siklikal juga terkoreksi masing-masing 5,37 persen dan 10,2 persen. Sektor lainnya seperti keuangan, properti, teknologi, infrastruktur, dan transportasi juga mengalami penurunan signifikan.
Investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih dengan nilai mencapai Rp 41,63 triliun sepanjang tahun 2026. Pada pekan lalu, nilai jual bersih investor asing mencapai Rp 309,52 miliar, meskipun angka ini menurun dibandingkan pekan sebelumnya. Aktivitas perdagangan justru meningkat dengan rata-rata nilai transaksi harian naik 15,68 persen menjadi Rp 21,77 triliun dan volume transaksi bertambah 2,53 persen menjadi 36,67 miliar lembar saham.
Dari sisi saham individual, beberapa emiten mencatat koreksi harga yang tajam. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi yang paling tertekan dengan penurunan harga mencapai 53,49 persen, diikuti oleh PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) yang turun 50,2 persen, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang melemah 47,34 persen. Kondisi ini mencerminkan tekanan luas yang terjadi di pasar saham pekan lalu.
Melihat kondisi pasar yang masih penuh tantangan, analis menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dalam memilih saham. Fokus sebaiknya diberikan pada emiten dengan fundamental kuat dan potensi pemulihan yang realistis. Meski ada sinyal teknikal pembalikan arah, sentimen negatif yang datang dari faktor global dan domestik masih bisa memicu koreksi berkelanjutan di pasar saham dalam waktu dekat.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa IHSG masih akan menghadapi tekanan, terutama dari aliran modal asing yang cenderung keluar dan ketidakpastian kebijakan ekonomi global. Para pelaku pasar diharapkan memperhatikan dinamika ini agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih tepat di tengah kondisi volatilitas yang tinggi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan