Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pada 6 Mei 2026 di level 7.092,46, hanya 7,54 poin dari target 7.100 yang menjadi tonggak bagi para pelaku pasar. Kenaikan ini terjadi meski investor asing menjual saham senilai Rp 482,07 miliar, namun iklim pasar tetap memihak pada zona hijau.
Data RTI menunjukkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di 17.372, menegaskan ketenangan mata uang selama sesi perdagangan. Laporan Liputan6.com mengutip Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment di Pilarmas Investindo Sekuritas, bahwa “IHSG dan bursa Asia bergerak menguat karena meredanya tensi konflik di Timur Tengah.”
Pergerakan harga minyak global menjadi faktor utama, dengan harga WTI turun 8,86 persen menjadi $93,21 per barel, sedangkan Brent turun 7,75 persen menjadi $101,36 per barel. Perubahan ini mengurangi biaya produksi dan logistik bagi perusahaan Indonesia, memberi dorongan positif pada indeks saham.
Investor asing di pasar modal Indonesia melakukan penjualan total senilai Rp 482,07 miliar pada hari itu, menambah total penjualan sepanjang tahun 2026 mencapai Rp 48,9 triliun. Meski demikian, volume perdagangan tetap di bawah Rp 20 triliun, menunjukkan likuiditas yang stabil.
Peristiwa politik di luar negeri juga mempengaruhi sentimen pasar. Presiden AS Donald Trump mengumumkan penghentian sementara operasi maritim di Selat Hormuz, sebuah keputusan yang dipandang sebagai langkah diplomatik ke arah Iran. Pasar menafsirkan keputusan ini sebagai sinyal potensi kesepakatan, sehingga menambah optimisme di kalangan investor internasional.
Menurut data Bank Indonesia, kebijakan moneter tetap menitikberatkan pada menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Bank Indonesia menegaskan bahwa pergerakan rupiah di zona hijau tidak menimbulkan tekanan signifikan pada inflasi. Kebijakan ini diharapkan membantu mendorong kebijakan fiskal yang lebih agresif untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.
Dengan kombinasi faktor domestik dan internasional, IHSG pada 6 Mei 2026 menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. Pasar saham tetap menguat di zona hijau, meski ada tekanan penjualan asing. Pergerakan harga minyak dan dinamika geopolitik di Timur Tengah menjadi katalis utama, sementara kebijakan moneter Bank Indonesia memberikan landasan stabil untuk pasar. Pada akhirnya, IHSG hampir mencapainya target 7.100, menandakan prospek positif bagi investor jangka menengah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan