Media Kampung – Pemerintah Kabupaten Lumajang menggandeng dua agenda budaya, Segoro Topeng Kaliwungu 2026 dan Suro Run, sebagai upaya mendorong pariwisata, ekonomi lokal, dan promosi daerah. Dua agenda itu dibahas dalam talkshow JELITA di Studio 1 LPPL Radio Suara Lumajang, Selasa (23/6/2026), bersama unsur pemerintah daerah, DPRD, Dinas Pariwisata, dan penyelenggara kegiatan.
Segoro Topeng Kaliwungu 2026 Masuk KEN
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang Dr Joko Setyo mengatakan, Segoro Topeng Kaliwungu kembali masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026. Dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, hanya 11 daerah yang terpilih, termasuk Lumajang. Tahun ini, Segoro Topeng Kaliwungu mengusung tema “Lamajang The Land of Glory” yang mengangkat kisah Kerajaan Lamajang Tigangjuru. Event akan digelar pada 27-28 Juni 2026 di Pantai Watu Pecak dengan melibatkan 500 penari, terdiri dari 400 anak-anak dan 100 dewasa, serta didukung 116 lembaga dan 48 sanggar. “Antusias masyarakat sangat luar biasa. Pendaftar seleksi penari sampai 1.100 orang,” kata Joko. Selain pertunjukan tari, rangkaian acara juga diisi lomba mewarnai Topeng Kaliwungu untuk anak TK, lomba fotografi, dan lomba menghias ikan bakar yang melibatkan ibu-ibu PKK. Menurut Joko, keterlibatan penari anak menjadi tantangan tersendiri karena pementasan berlangsung di kawasan pantai, sehingga panitia harus memastikan anak-anak tetap fokus dan mampu menjaga kekhasan Tari Topeng Kaliwungu sebagai budaya khas Lumajang.
Dukungan Pemerintah dan DPRD
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Lumajang Hari Susiati menilai event budaya tersebut sejalan dengan visi daerah dalam mengoptimalkan destinasi wisata dan menggerakkan UMKM. Ia berharap kegiatan semacam ini mampu menumbuhkan potensi ekonomi lokal dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. “Kita harapkan dengan destinasi wisata nantinya akan tumbuh potensi perekonomian lokal yang akan mendongkrak kesejahteraan masyarakat,” ujarnya. Ketua Komisi B DPRD Lumajang Deddy Firmansyah mengatakan, pemerintah dan legislatif berkomitmen mendukung event budaya sebagai langkah strategis untuk mengenalkan Lumajang lebih luas. Menurut dia, Suro Run juga tidak boleh dipandang hanya sebagai event olahraga, melainkan bagian dari upaya mengangkat budaya dan partisipasi masyarakat. “Pemuda dan penggiat budaya harus saling bekerja sama. Suro Run juga tidak hanya sekadar event lari, tetapi ada keunikan yang harus kita gali supaya lebih menarik perhatian masyarakat,” kata Deddy. Ia menambahkan, promosi kreatif di era digital serta evaluasi dampak ekonomi dan kunjungan perlu dilakukan agar setiap event memiliki tolok ukur dan bisa dikembangkan lebih baik pada tahun berikutnya.
Suro Run: Lari, Pesta Rakyat, dan Budaya
Selain Segoro Topeng Kaliwungu, Lumajang juga menyiapkan Suro Run yang akan digelar pada 4 Juli 2026 mulai pukul 05.30 WIB. PIC Suro Run Rizaldy Muhaimin mengatakan, kegiatan itu tidak hanya dikemas sebagai ajang lari, tetapi juga dipadukan dengan pesta rakyat dan pertunjukan budaya dari sejumlah desa. Desa Rowokangkung dijadwalkan menampilkan tari gandrung, Desa Sumbersari membawakan Topeng Kaliwungu, Desa Kedungrejo menampilkan reog, Sidorejo menghadirkan jaranan, dan Desa Nogosari menampilkan Tari Semeru. Pendaftaran Suro Run masih dibuka hingga 4 Juli 2026 secara daring di surorun.com maupun luring di sejumlah titik pendaftaran di wilayah Lumajang.
Lewat Segoro Topeng Kaliwungu dan Suro Run, Lumajang ingin menjadikan budaya bukan hanya panggung pertunjukan, tetapi juga penggerak wisata, penguatan UMKM, dan ruang kolaborasi masyarakat untuk memajukan daerah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.




Tinggalkan Balasan