Media Kampung – Thailand mengubah strategi pariwisata dengan tidak lagi mengejar rekor jumlah wisatawan. Pemerintah kini memprioritaskan besarnya pengeluaran setiap wisatawan dibandingkan jumlah pengunjung yang datang. Negara Asia Tenggara ini hanya menargetkan sekitar 33 juta wisatawan mancanegara pada tahun ini, jauh di bawah hampir 40 juta wisatawan pada 2019.
Perubahan Fokus Pariwisata Thailand
Deputi Gubernur Otoritas Pariwisata Thailand, Nithee Seepraesaid, mengatakan ketegangan geopolitik dan persaingan ketat di kawasan membuat strategi menarik wisatawan dengan pengeluaran tinggi menjadi lebih penting dibandingkan mengandalkan pariwisata massal. “Kami tidak terlalu khawatir dengan jumlah wisatawan karena kami ingin menghasilkan pendapatan yang lebih besar dari setiap pengunjung,” ujarnya.
Otoritas Pariwisata Thailand kini membidik wisatawan yang datang untuk layanan kesehatan, wellness, konser, festival, golf, maraton, dan ajang olahraga lainnya. Kelompok wisatawan ini cenderung tinggal lebih lama dan membelanjakan uang lebih banyak. Situs resmi Otoritas Pariwisata Thailand juga lebih menonjolkan konsep wisata mewah dan wellness.
Target Pengeluaran Wisatawan
Saat ini, rata-rata wisatawan membelanjakan sekitar USD 1.500 untuk setiap perjalanan ke Thailand. Pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi sekitar USD 2.400. Namun, penerimaan dari sektor pariwisata internasional tahun ini diperkirakan hanya naik tipis menjadi 1,55 triliun baht (USD 46,5 miliar), dibandingkan 1,54 triliun baht pada 2025.
Perubahan Kebijakan Visa
Salah satu tanda paling jelas perubahan strategi adalah pencabutan berbagai kemudahan visa yang diperkenalkan setelah pandemi. Pemerintah mengaitkan aturan tersebut dengan meningkatnya kasus pekerja ilegal, pelanggaran izin tinggal, dan tindak kriminal yang melibatkan warga negara asing. Pekan lalu, polisi Thailand menangkap seorang pria asal Australia di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, yang diduga membunuh seorang remaja perempuan Thailand.
Tantangan Transisi
Sektor pariwisata menyumbang sekitar seperlima perekonomian Thailand. Ekosistem hotel, restoran, pasar makanan, operator transportasi, pusat penyelaman, hingga biro perjalanan masih sangat bergantung pada tingginya jumlah wisatawan. Destinasi seperti Phuket dan Chiang Mai dibangun untuk melayani pariwisata berskala besar sehingga pergeseran menuju wisatawan yang lebih sedikit tetapi memiliki pengeluaran lebih besar bukanlah hal yang mudah.
Thailand juga tidak lagi mendominasi pasar wisata berbiaya terjangkau. Vietnam dan Indonesia semakin kompetitif, sementara penguatan nilai tukar baht mengikis keunggulan tradisional Thailand. Selama puluhan tahun, Thailand membangun industri pariwisata massal terbesar di dunia, didukung oleh mata uang yang lebih murah, promosi melalui film dan serial televisi, serta ledakan wisatawan asal China sebelum pandemi. Namun, sejak pandemi, negara tersebut masih kesulitan mengembalikan momentum.
Nithee menegaskan strategi baru ini bukan berarti Thailand menutup pintu bagi wisatawan dengan anggaran terbatas. “Bagi Thailand, kemewahan berarti pengalaman yang bermakna dan pengalaman yang eksklusif,” ujarnya.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.





Tinggalkan Balasan