Media Kampung – Perjalanan singkat menggunakan angkot ke sebuah mal untuk menonton film akhir pekan lalu justru meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam dibanding film itu sendiri. Di balik kemudi, seorang sopir bercerita tentang sepinya penumpang, dan di sanalah saya belajar kembali mendengar suara-suara yang pelan-pelan mulai menghilang dari keseharian kita.
Sore itu, sebelum waktu Zuhur, saya menunggu di tepi jalan. Angkot yang saya tumpangi hanya mengangkut satu atau dua penumpang di belakang. Sopir terus melongok ke pinggir jalan, berharap ada lambaian tangan. Pemandangan yang akrab, namun kini terasa getir. Di tengah masifnya transportasi berbasis aplikasi, angkot masih bertahan, meski napasnya tidak sepanjang dulu.
“Mana ini orang-orang?” gerutu sopir pelan. Bukan amarah, melainkan cemas. Kalimat pendek yang mengandung tanya besar: ke mana perginya penumpang? Di pasar besar, hanya satu orang naik. Angkot lalu berbelok ke rute tak biasa, mengantar seorang penumpang hingga dekat tujuan—sebuah fleksibilitas yang dulu jadi daya tarik, namun kini tak lagi cukup mendatangkan rezeki.
Ketika akhirnya kami mengobrol, sopir itu bilang, “Dari kampus ke kota lama cuma tiga orang. Baliknya juga tiga.” Ia menambahkan, “Sejak ada transportasi online, penumpang sepi.” Saya hanya mengangguk. Di dalam angkot yang separuh kosong, saya merasakan paradoks: kenyamanan ruang lapang bagi saya, namun bagi sopir, setiap kursi hampa adalah penghasilan yang tak jadi diperoleh.
Wajah Manusia di Balik Kemajuan
Transportasi online menawarkan kepastian tarif, kemudahan, dan kenyamanan. Sebagai konsumen, pilihan itu rasional. Namun kemajuan jarang datang tanpa biaya sosial. Ekonom Joseph Schumpeter menyebutnya creative destruction: inovasi melahirkan kemajuan sekaligus menghancurkan bentuk ekonomi lama. Di dalam laporan ekonomi, fenomena ini mungkin cuma angka. Tapi di dalam angkot, ia berwajah seorang sopir yang terus melongok ke jalan, berharap satu penumpang lagi.
Kehadiran layanan daring telah membuka akses mobilitas lebih baik dan lapangan kerja baru. Persoalannya bukan pada teknologi, melainkan pada kemampuan kita membaca dampak yang ditinggalkan. Kemajuan seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa cepat kita tiba di tujuan, tetapi juga dari seberapa sedikit orang yang tertinggal di sepanjang perjalanan.
Empati dari Percakapan Sederhana
Di tengah perjalanan, sopir bercerita tentang acara kerukunan daerah yang baru diantarnya; konsumsi tak kunjung dibagikan hingga banyak peserta pulang. Penumpang lain berkomentar ringan tentang makan siang yang hanya didapat mereka yang membawa makanan sendiri. Perbincangan sepele ini mengingatkan saya bahwa bagi sebagian orang, makan gratis dalam acara adalah penghematan pengeluaran harian yang berarti. Empati sering lahir bukan dari pidato besar, melainkan dari percakapan kecil semacam ini.
Sosiolog Richard Sennett pernah menulis bahwa masyarakat modern perlahan kehilangan kemampuan untuk benar-benar mendengarkan kehidupan orang lain. Kita hidup berdampingan, tetapi jarang saling memahami. Di dalam angkot itu, sopir terus mengulang cerita yang sama—mungkin sekadar berkelakar, mungkin menyindir, atau mungkin hanya butuh seseorang yang mau mendengar. Kadang, manusia tidak mencari solusi; mereka hanya ingin kegelisahannya memiliki saksi.
Belajar dari Jeda
Perjalanan sore itu terasa lebih lama dari biasanya. Anehnya, saya tidak merasa dirugikan. Justru dalam keterlambatan itu, saya mendapat sesuatu yang tak mungkin didapat dari kendaraan daring: kesempatan mendengar. Mendengar bagaimana seseorang memaknai pekerjaannya, bagaimana perubahan ekonomi terasa dari balik kemudi, bagaimana harapan sesederhana satu penumpang lagi di tikungan berikutnya.
Pengalaman ini mengingatkan pada konsep slow observation dalam kajian psikologi dan humaniora. Di tengah budaya serba cepat, kita kehilangan kemampuan mengamati secara perlahan. Angkot, dengan ritmenya yang berhenti-henti, memaksa kita memperhatikan, melihat wajah, dan mendengar cerita yang tak muncul di media sosial. Kehidupan sering kali menampakkan diri justru dalam jeda-jeda semacam itu.
Oleh karena itu, alangkah baiknya jika para pengambil kebijakan sesekali meninggalkan ruang rapat dan merasakan sendiri denyut kehidupan rakyat. Bukan untuk pencitraan, melainkan untuk mendengar langsung suara-suara yang selama ini hanya berbisik dari kursi depan angkot. Sebab kebutuhan masyarakat tak selalu terdengar dari podium; ia sering kali datang dari keluhan seorang sopir yang berjuang mempertahankan pekerjaannya di tengah zaman yang terus berubah.















Tinggalkan Balasan