Media Kampung – Presiden FIFA, Gianni Infantino, memilih untuk tidak memberikan komentar mengenai masa depannya saat menghadiri pembukaan Piala Dunia Wanita U-20 di Polandia pada September 2026. Keputusan ini terjadi di tengah tekanan yang semakin meningkat terkait rencana kontroversialnya untuk menjual saham hak komersial Piala Dunia, yang akhirnya dibatalkan setelah penolakan luas dari berbagai badan sepak bola nasional.

Infantino, yang telah menjabat sejak 2016 dan berencana mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat pada pemilihan Maret 2027, menegaskan bahwa saat ini waktunya untuk menikmati sepak bola dan fokus pada pengembangan olahraga di seluruh dunia. Ia menyatakan komitmennya untuk memberikan kesempatan dan martabat bagi semua federasi anggota FIFA agar dapat berkembang dan merayakan sepak bola.

Baca juga:

Namun, rencana Infantino untuk membentuk sebuah perusahaan induk senilai 20 miliar dolar yang mengelola hak komersial FIFA dan menawarkan saham kepada investor swasta menuai kritik keras. Beberapa konfederasi, terutama UEFA, menolak dan bahkan mempertimbangkan tindakan hukum terhadap FIFA atas rencana tersebut. Kampanye publik yang menuntut pengunduran diri Infantino, termasuk billboard di Times Square New York dengan slogan keras, menambah tekanan politik terhadapnya.

Di sisi lain, Infantino memperoleh dukungan signifikan dari beberapa federasi Afrika. Pemimpin sepak bola Afrika seperti Samuel Eto’o dan presiden federasi dari Benin dan Ghana menyoroti investasi dan proyek pengembangan yang telah membantu kemajuan sepak bola di benua tersebut selama masa jabatan Infantino. Mereka menilai bahwa fokus pada pengembangan sepak bola di Afrika harus menjadi pertimbangan penting dalam menilai kinerja presiden FIFA saat ini.

Baca juga:

Perpecahan dukungan antara konfederasi besar seperti UEFA yang menentang dan federasi Afrika serta Amerika Selatan yang mendukung Infantino mencerminkan dinamika kompleks menjelang pemilihan FIFA 2027. Meski demikian, Infantino tetap enggan membahas apakah ia akan mundur atau melanjutkan pencalonan, menegaskan bahwa saat ini adalah waktu untuk menikmati kompetisi sepak bola dan bukan mengurusi spekulasi tentang masa depan kepemimpinannya.

Situasi ini menandai periode kritis bagi FIFA dan dunia sepak bola, dengan berbagai pihak menantikan keputusan dan arah baru organisasi menjelang pemilihan mendatang.

Baca juga: