Media Kampung – Harga tiket final Piala Dunia 2026 yang dijual di pasar resmi mencapai $11.000 atau sekitar Rp191 juta, namun di pasar sekunder FIFA Marketplace satu tiket dilaporkan mengungguli $2 juta (sekitar Rp34‑35 miliar). Presiden FIFA Gianni Infantino membela kebijakan harga tersebut dan menambahkan, “Jika seseorang membeli tiket final seharga $2 juta, saya akan secara pribadi membawakannya hot dog dan Coca‑Cola”.
Pernyataan Infantino disampaikan pada konferensi pers KTT Semafor World Economy 2026 di Washington, DC, 15 April 2026, serta pada pertemuan Musim Dingin Konferensi Walikota AS 29 Januari 2026. Ia menegaskan bahwa harga tinggi mencerminkan permintaan pasar yang luar biasa, mengingat FIFA menerima lebih dari 500 juta permintaan tiket untuk edisi 2026, jauh melampaui gabungan 50 juta permintaan pada Piala Dunia 2018 dan 2022.
FIFA beralasan bahwa sistem penjualan kembali (resale) di Amerika Serikat memperbolehkan harga melampaui nilai resmi, sehingga kebijakan dinamis diperlukan untuk menghindari penjualan tiket “terlalu murah” yang kemudian akan diperdagangkan dengan markup dua kali lipat atau lebih. “Di AS, Anda tidak bisa menonton pertandingan kampus atau profesional dengan harga kurang dari $300, dan ini adalah Piala Dunia,” ujar Infantino.
Kelompok suporter Football Supporters Europe (FSE) menilai struktur harga sebagai “pemerasan” dan mengajukan gugatan ke Komisi Eropa pada Maret 2026. Mereka menyoroti perbedaan mencolok dengan edisi 2022 di Qatar, di mana tiket final termahal berharga $1.600 (sekitar Rp27,8 juta). Kritikus menganggap lonjakan hingga $11.000 resmi dan $2 juta di pasar sekunder menyalahi semangat inklusif sepak bola.
FIFA Marketplace mengiklankan empat tiket final yang dijual di New York dengan harga di atas $2 juta per tiket pada minggu lalu. Infantino menolak bahwa angka tersebut mencerminkan harga asli FIFA, menambahkan bahwa tidak semua tiket dengan harga fantastis akan terjual. Ia menekankan, “Jika ada yang benar‑benar membeli tiket seharga itu, saya akan pastikan dia mendapatkan pengalaman luar biasa dengan hot dog dan Coca‑Cola.”
Selain harga, FIFA mengungkapkan bahwa 25 persen tiket fase grup dijual dengan harga di bawah $300 (sekitar Rp5,2 juta). Namun, data penjualan menunjukkan masih ada kursi kosong pada beberapa laga fase grup, termasuk pertandingan pembuka AS melawan Paraguay yang menawarkan tiket mulai $1.120 hingga $4.105.
Mattias Grafström, Sekjen FIFA, mengakui bahwa kebijakan harga menimbulkan ketidakpuasan dan berjanji meninjau strategi penetapan harga setelah turnamen selesai. “Kami mendengarkan masukan suporter dan akan menganalisis situasi untuk edisi berikutnya,” katanya dalam pernyataan resmi FIFA yang dirilis pada 6 Mei 2026.
Sejumlah media lokal, termasuk mediakampung.com, melaporkan bahwa kritik terhadap harga tiket juga menimbulkan perdebatan tentang aksesibilitas bagi suporter biasa, terutama dari negara‑negara berkembang. Sementara itu, FIFA tetap optimis bahwa target penjualan tiket baru – melampaui 3,5 juta tiket pada edisi 1994 – dapat tercapai berkat pasar besar di Amerika Utara dan peningkatan jumlah pertandingan menjadi 104 dengan 48 tim peserta.
Hingga saat ini, belum ada laporan penjualan tiket final dengan harga $2 juta yang terkonfirmasi, dan pasar sekunder masih dipantau ketat oleh regulator AS. Pengamat industri menyarankan agar FIFA mempertimbangkan skema harga yang lebih beragam untuk menjaga semangat sportivitas sekaligus memaksimalkan pendapatan. Artikel ini akan terus memperbarui perkembangan terkait kebijakan tiket dan respons publik seiring mendekatnya pertandingan pembukaan pada 8 Juni 2026.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan