Media Kampung – Jakarta – Penguatan rupiah terus berlanjut meski masih terbatas. Pada pembukaan perdagangan Rabu, 10 Juni 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) meninggalkan level Rp18.000 dan tercatat naik 0,43 persen atau 78 poin ke posisi Rp17.980 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya, rupiah menguat 0,71 persen ke posisi Rp18.058 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.
Analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan penguatan rupiah masih berpotensi berlanjut menyusul langkah BI menaikkan suku bunga. Namun, ia mengingatkan bahwa penguatan ini masih terbatas karena adanya faktor eksternal yang dapat menekan kembali nilai tukar rupiah. “Eskalasi konflik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak mentah dunia akan membatasi penguatan rupiah,” ujarnya. Lukman memprakirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.900-Rp18.100 per dolar AS, sementara indeks dolar AS diperkirakan bergerak di level 99,90-100,02.
Para analis menilai BI telah mengerahkan semua upaya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, yang sudah terdepresiasi sebesar 9 persen sejak awal tahun. “Keputusan BI menaikkan suku bunga di luar jadwal (off cycle) menunjukkan urgensi untuk menstabilkan rupiah,” kata analis pasar uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa. Menurutnya, secara historis BI hanya melakukan kebijakan serupa pada periode tekanan nilai tukar yang signifikan.
Jessica menambahkan bahwa berdasarkan pengalaman tersebut, kebijakan off-cycle umumnya diikuti kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun antara 100 hingga 320 basis poin sepanjang tahun kalender. Rupiah juga diprakirakan menguat 1-3 persen dalam satu bulan berikutnya, dengan arus masuk dana asing sebesar Rp10-40 triliun dalam tiga bulan ke depan. “Langkah ini bertujuan memperkuat kredibilitas dan independensi BI,” kata Jessica, seraya menekankan komitmen kuat untuk memulihkan kepercayaan terhadap aset berdenominasi rupiah.
Namun, Jessica mengingatkan masih ada ruang tambahan kenaikan suku bunga sebesar 25-50 bps apabila tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Dengan demikian, penguatan rupiah yang terjadi saat ini masih dibayangi risiko eksternal, namun BI siap mengambil langkah lebih lanjut jika diperlukan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan