Media Kampung – Penguatan IHSG dan rupiah diharap berlanjut sebagai angin segar bagi pasar keuangan RI setelah indeks saham dan nilai tukar mencatat rebound signifikan pada perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melambung 404,51 poin atau 7,57 persen ke level 5.746,648, sementara kurs rupiah menguat 0,71 persen ke Rp18.058 per dolar AS.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, mengatakan penguatan IHSG dan rupiah diharapkan bisa berkelanjutan. Menurutnya, hal ini tak terlepas dari persepsi investor terhadap prospek ekonomi dan stabilitas kebijakan fiskal nasional. Selain itu, juga dipengaruhi faktor kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen, yang diharapkan menarik investasi masuk.
“Yang utama, jika aliran modal besar masuk ke Indonesia dan devisa negara banyak, maka nilai rupiah tidak terdepresiasi,” ujar Esther saat dihubungi, Selasa (9/6).
Dia menjelaskan, untuk bisa menarik aliran modal masuk, Indonesia harus memenuhi sejumlah syarat mendasar yang menjadi pertimbangan investor global. Pertama, kepastian hukum untuk berbisnis di Indonesia. Kedua, prospek ekonomi pasar yang baik. Ketiga, ketersediaan bahan baku yang memadai. Keempat, ekosistem yang mendukung. Kelima, integrasi rantai pasok global. Keenam, ketersediaan infrastruktur energi, listrik, air dan lainnya yang baik. Ketujuh, harmonisasi peraturan antar instansi baik pusat maupun daerah.
Esther menegaskan, stabilitas di level kementerian memberi sinyal positif bagi investor karena mengurangi ketidakpastian kebijakan jangka pendek. Menurutnya, jika ketujuh faktor tersebut bisa dipenuhi, maka aliran modal asing akan lebih mudah masuk dan memperkuat nilai tukar rupiah serta pasar modal domestik.
Sementara itu, Ekonom STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan pasar merespons positif berkurangnya ketidakpastian politik, termasuk isu pergantian Menteri Keuangan. Pasar keuangan pada umumnya tidak menyukai ketidakpastian, terutama yang berkaitan dengan arah kebijakan ekonomi pemerintah.
“Rumor pergantian Menteri Keuangan sempat memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah. Ketika isu itu dibantah, sebagian investor kembali percaya bahwa tidak akan ada perubahan mendadak pada kebijakan ekonomi,” kata Aditya.
Ia menjelaskan, koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia dinilai penting dalam menjaga stabilitas rupiah serta pasar obligasi. Selain faktor tersebut, penguatan pasar juga dipengaruhi aksi beli setelah tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Sehari sebelumnya, IHSG mengalami penurunan cukup tajam dan nilai tukar rupiah juga melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Ketika sentimen negatif mulai mereda, sebagian investor memanfaatkan kondisi harga saham yang telah turun untuk melakukan aksi beli atau buy on weakness. Langkah tersebut kemudian membantu mendorong rebound IHSG dan penguatan rupiah.
Menurutnya, pergerakan pasar keuangan dipengaruhi banyak faktor, antara lain arus modal asing, kebijakan suku bunga, kondisi ekonomi global, sentimen terhadap dolar AS, serta ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia. “Ini menjadi salah satu katalis positif yang mengurangi kepanikan pasar. Namun, itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan penguatan IHSG dan rupiah pada hari ini,” tambahnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan