Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, hingga mencapai level Rp17.926 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan internal yang menekan pasar keuangan domestik.
Penguatan dolar AS yang didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama pelemahan rupiah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah pembicaraan damai yang sempat berjalan mengalami penangguhan dari pihak Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan masih berlangsung, namun Teheran mengumumkan penghentian negosiasi, menimbulkan ketidakpastian pasar global.
Ketegangan ini diperparah oleh eskalasi konflik di Lebanon Selatan antara Hizbullah dan Israel yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, sehingga menyebabkan kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah WTI tercatat berada di level US$94,58 per barel, sedangkan Brent crude oil menguat ke US$96,72 per barel.
Kenaikan harga minyak juga berdampak pada inflasi di Amerika Serikat yang meningkat akibat tingginya biaya energi dan logistik, sehingga menimbulkan ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan menaikkannya lagi pada tahun ini.
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi sebesar 3,08% secara tahunan pada Mei 2026, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,09 pada April menjadi 111,40 pada Mei. Data ini turut mempengaruhi persepsi investor dan pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah ini juga memberikan dampak negatif pada pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 4,13% ke posisi 5.939,71 pada perdagangan Rabu pagi, terdorong oleh pelemahan rupiah yang sudah menembus Rp17.928 per dolar AS dan tekanan dari saham-saham konglomerasi yang memiliki kapitalisasi pasar besar.
Analis saham dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa koreksi tajam IHSG saat ini masih dalam fase downtrend dan belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah dalam waktu dekat.
Sehari sebelum pelemahan ini, rupiah sempat berada di level Rp17.879 per dolar AS setelah libur panjang, dengan prediksi bergerak dalam kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900. Namun, sentimen negatif dari perkembangan geopolitik dan data ekonomi membuat rupiah terus tertekan pada perdagangan hari ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan