Media Kampung – Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Tengah, Reza Mahendra, menegaskan pada Selasa, 5 Mei 2026, bahwa klaim seorang siswa SDN 01 Banjaranyar, Kabupaten Pemalang, dikeluarkan karena orang tuanya mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak benar.
Klarifikasi ini muncul setelah isu beredar sejak 27 Januari 2026 dan kembali ramai pada pertengahan April 2026, ketika narasi di media sosial berubah dari kritik terhadap Lembar Kerja Siswa (LKS) menjadi tuduhan pemberhentian siswa secara sepihak.
Awalnya, orang tua mengkritik beberapa hal, termasuk LKS, infaq, dan program MBG, khususnya nominal harga menu saat bulan puasa. Mereka mengira paket MBG berharga Rp15 ribu, padahal tarif yang berlaku adalah Rp8 ribu untuk porsi kecil dan Rp10 ribu untuk porsi besar.
Pihak sekolah memanggil wali siswa untuk memberikan penjelasan. Setelah pertemuan, siswa tidak kembali bersekolah, memicu tuduhan perundungan di media sosial.
Sejak April 2026, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pemalang Randudongkal 2 memantau kasus, berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, dan menjalani enam kali pemeriksaan di Polres Pemalang, dengan fokus utama pada dugaan perundungan, bukan kritik terhadap MBG.
Pada 2 Mei 2026, sekolah kembali menjalani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Polres Pemalang, dan pada 4 Mei 2026, pertemuan dengan kuasa hukum serta pihak terkait dilakukan untuk melanjutkan proses penyelesaian.
Kepala SDN 01 Banjaranyar, Sri Umbartiningsih, menegaskan antusiasme tinggi siswa terhadap program MBG, menyatakan bahwa siswa menunggu pembagian MBG dan bahkan meminta makanan teman yang tidak berangkat sekolah.
SPPG Pemalang Randudongkal 2, yang beroperasi sejak 1 September 2025, melaporkan telah melayani 3.608 penerima manfaat dan terus berkomitmen meningkatkan kualitas layanan serta memastikan program MBG berjalan optimal dan tepat sasaran.
Reza Mahendra menutup klarifikasi dengan menekankan komitmen BGN untuk terus meningkatkan kualitas layanan MBG dan memastikan tidak ada penindasan terhadap peserta didik yang menyuarakan kritik konstruktif.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan