Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup sesi I pada Rabu, 6 Mei 2026, dengan kenaikan 0,64 persen, mengukir level 7.102,72. Kenaikan ini menandakan pergerakan positif di pasar modal Indonesia pada awal hari perdagangan.

Di antara saham yang memberikan kontribusi signifikan, RICY (Ricky Putra Globalindo) mencatat kenaikan 32 poin atau 34,04 persen hingga 126, diikuti DEFI (Danasupra Erapacific) naik 42 poin atau 28,19 persen ke 191, serta PYFA (Pyridam Farma) yang menambah 76 poin atau 25 persen menjadi 380. Saham-saham lain seperti SURI dan ABDA juga mencatat kenaikan di atas 20 persen.

Sementara itu, beberapa saham mengalami penurunan, di antaranya YPAS (Yanaprima Hastapersada) turun 165 poin atau 12,79 persen ke 1.125, BOBA (Formosa Ingredient Factory) melambat 32 poin atau 10,46 persen menjadi 274, serta PNGO (Pinago Utama) yang kehilangan 370 poin atau 9,49 persen hingga 3.530. Penurunan serupa juga terjadi pada SHIP dan CASA, menandakan adanya tekanan pada sektor tertentu.

Nilai total saham dengan kapitalisasi terbesar pada sesi ini meliputi BRPT (Barito Pacific) senilai Rp1,07 triliun, PTRO (Petrosea) Rp437,05 miliar, BMRI (Bank Mandiri) Rp341,91 miliar, BBRI (Bank Rakyat Indonesia) Rp311,82 miliar, dan CUAN (Petrindo Jaya Kreasi) Rp268,66 miliar. Dari segi volume perdagangan, GOTO (GoTo Gojek Tokopedia) memimpin dengan 31,20 juta lembar, diikuti ENZO (Morenzo Abadi Perkasa) 10,36 juta lembar, ASHA (Cilacap Samudera Fishing Industry) 8,75 juta lembar, BUMI (Bumi Resources) 7,86 juta lembar, serta KOTA (DMS Propertindo) 7,33 juta lembar.

Pergerakan positif IHSG sejalan dengan tren kenaikan mayoritas bursa di Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,38 persen ke 59.513,12, Hang Seng Hong Kong naik 0,79 persen ke 26.104,42, SSE Composite China menguat 1,26 persen hingga 4.164,42, dan Straits Times Singapura naik tipis 0,08 persen ke 4.924,40. Data ini menegaskan adanya sentimen bullish regional yang turut menguatkan pasar Indonesia.

IHSG sebagai barometer utama pasar saham Indonesia mencerminkan kesehatan ekonomi domestik dan ekspektasi kebijakan moneter. Kenaikan pada sesi I biasanya memberi indikasi kuat bagi investor untuk menambah posisi pada sesi berikutnya, terutama bila didukung oleh likuiditas tinggi dan aliran dana asing.

Dengan penutupan yang kuat, pasar saham Indonesia kini berada pada zona hijau, menunggu perkembangan ekonomi makro dan kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi arah pergerakan selanjutnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.