Media Kampung – Ustaz Abdul Somad (UAS) mengungkapkan tiga nama calon wakil Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid yang dia usulkan sebelum akhirnya terpilih SF Hariyanto. Kesaksian ini disampaikan UAS dalam sidang perkara dugaan korupsi yang menjerat Abdul Wahid di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pekanbaru.
Dalam keterangannya di hadapan majelis hakim, UAS menjelaskan bahwa dukungannya kepada Abdul Wahid tidak diberikan tanpa syarat. Ia mengaku mengusulkan tiga figur yang memiliki latar belakang pesantren dan kedekatan dengan dunia keagamaan untuk mendampingi Abdul Wahid sebagai wakil gubernur.
“Saya menawarkan tiga wakil dari saya. Yang pertama dr. Mawardi Muhammad Saleh. Kalau beliau tidak bersedia, saya minta Bapak Zukri karena beliau sangat baik dan kenal baik dengan saya. Beliau juga tamat dari Pesantren Darun Nahdhah. Yang ketiga mantan Bupati Pelalawan, Bapak Haris, karena beliau punya pesantren dan hubungan baik dengan saya,” ujar UAS.
Menurut UAS, ketiga calon tersebut dipilih agar pemerintahan yang akan dibangun memiliki keseimbangan antara hubungan dengan pemerintah pusat dan pembinaan masyarakat di daerah. “Supaya kalau Bapak Abdul Wahid jadi gubernur, beliau bisa memperjuangkan ke pusat, ke atas, sedangkan wakil bisa menjaga di bawah. Ketiga-tiganya ini adalah orang pesantren,” tambahnya.
Selain itu, UAS juga menceritakan dinamika hubungan antara Abdul Wahid dan SF Hariyanto selama menjabat. Ia menyebut Abdul Wahid pernah mendapat ancaman terkait rekaman suara yang disebut berasal dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang membuatnya merasa diintimidasi. UAS pun mengungkap adanya upaya mediasi yang melibatkan beberapa tokoh untuk mendamaikan kedua belah pihak, meski akhirnya situasi tersebut sulit diatasi.
UAS menegaskan bahwa sejak awal Abdul Wahid memiliki komitmen kuat terhadap pemerintahan bersih dan pemberantasan korupsi. Ia mengaku beberapa kali menerima arahan dari Abdul Wahid yang menegaskan larangan praktik pungutan liar dan korupsi, bahkan sampai melakukan pemecatan terhadap pelaku pungli.
“Saya berpikir perubahan tidak cukup hanya melalui ceramah. Dakwah akan lebih efektif jika diwujudkan melalui kebijakan, melalui tanda tangan, melalui peraturan daerah, peraturan gubernur, dan undang-undang. Karena itu, saya mencari orang yang saya anggap jujur dan amanah untuk berada di posisi tersebut. Itulah mengapa saya memilih sahabat saya, Abdul Wahid,” ungkap UAS.
Lebih jauh, UAS juga menyampaikan bahwa dukungannya kepada Abdul Wahid pada Pilkada Riau 2024 disertai komitmen tertulis berupa 17 poin yang harus dipenuhi, termasuk pembangunan Islamic Center, peningkatan fasilitas MTQ, serta pemberian insentif kepada penyelenggara jenazah dan guru mengaji. Semua poin tersebut bertujuan mendukung penguatan dakwah Islam dan kesejahteraan masyarakat Riau, bukan untuk kepentingan pribadi.
Kesaksian UAS memberikan gambaran mendalam tentang perjalanan politik Abdul Wahid, upaya menjaga integritas pemerintahan, dan dinamika hubungan politik yang terjadi di internal Pemprov Riau. Informasi ini penting sebagai bagian dari proses hukum yang sedang berjalan dan memberikan perspektif baru mengenai pilihan pendamping Abdul Wahid sebelum SF Hariyanto.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan