Media Kampung – Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, mengungkapkan pengalaman beratnya saat pertama kali menjalani masa tahanan terkait kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook. Dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta pada 2 Juni 2026, Nadiem secara terbuka menceritakan kondisi psikologisnya saat ditempatkan di ruang isolasi.

Ia mengaku bahwa pada masa awal penahanan, dunia seakan berakhir baginya. Terisolasi sendirian dalam sel, Nadiem merasa seperti dibuang dan tersiksa oleh kesendirian dan kesunyian yang menyelimuti dirinya.

Pengalaman paling menyakitkan terjadi saat ia terbangun di tengah malam dan berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk. Namun kenyataannya, yang ia lihat adalah jeruji besi yang mengurungnya, menandakan bahwa ia benar-benar berada dalam tahanan.

Selain tekanan fisik dan kebebasan yang dirampas, Nadiem menjelaskan bahwa penderitaan terberat justru datang dari ketidakpastian nasib yang menghantui pikirannya setiap saat. Kekhawatiran akan kondisi keluarga, masa depan, dan bagaimana dunia melihat kasusnya terus membebani batinnya.

“Penyiksaan terbesar bukan karena hilangnya kebebasan fisik, melainkan ketidakpastian yang terus menghantui pikiran dari pagi hingga malam,” ungkap Nadiem dengan penuh beban.

Meski demikian, Nadiem mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari pengalaman pahit tersebut. Ia belajar untuk bersabar, yang sebelumnya merupakan hal sulit baginya, serta memasrahkan diri kepada Tuhan dalam situasi tergelap.

Melalui masa-masa sulit itu, ia menemukan kekuatan baru untuk mengheningkan pikiran dan beriman dalam ketidakpastian, sehingga kini ia siap menghadapi apapun yang akan terjadi dengan keteguhan hati.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.