Media Kampung – Seorang pria berusia 47 tahun di Tasmania Barat Laut menembak mati seorang petugas polisi yang sedang menjalankan tugas eksekusi penyitaan rumah pada 16 Juni 2025. Insiden ini terjadi setelah pelaku menyatakan secara eksplisit niatnya untuk melawan penyitaan yang telah diputuskan oleh pengadilan.

Leigh Geoffrey Sushames diketahui telah berhenti membayar cicilan rumah sejak 2016 karena keyakinan bahwa masalahnya akan terselesaikan secara ilahi. Kecurigaan terhadapnya meningkat setelah ia menghindari komunikasi dengan perwakilan bank yang datang ke rumahnya, hingga akhirnya pihak kepolisian diperintahkan untuk melakukan penyitaan berdasarkan keputusan pengadilan.

Pada hari kejadian, Sushames menunggu di dalam carport rumahnya dengan membawa senapan. Ketika dua petugas polisi mendekat, Constable Keith Smith, 57 tahun, mengajak bicara pelaku yang menjawab dengan singkat bahwa kondisinya “tidak baik”. Tanpa peringatan, Sushames langsung menembak Constable Smith dari jarak kurang dari dua meter, mengenai bagian punggung dan kepala korban.

Rekan korban, Sergeant Gavin Rigby, segera melarikan diri ke semak-semak dan menghubungi bantuan. Tiga anggota operasi khusus kemudian tiba dan melepaskan tembakan, melumpuhkan tangan pelaku dan melucuti senjatanya. Pengadilan Tinggi Tasmania di Burnie kemudian menggelar sidang yang mengungkapkan bahwa Sushames telah mengakui perbuatannya dengan mengaku bersalah atas tuduhan pembunuhan, percobaan pembunuhan, dan penyerangan berat.

Penyidik menyampaikan bahwa pelaku sempat mengancam dengan mengatakan kepada seorang teman bahwa ia akan membunuh siapa saja yang mencoba mengambil rumahnya. Ancaman tersebut dianggap teman pelaku sebagai ungkapan biasa, namun menjadi nyata pada kejadian tragis itu.

Kronologi juga mengungkap bahwa lisensi senjata api pelaku telah dicabut sejak 2016 akibat masalah kesehatan mental yang dilaporkan polisi. Meskipun tidak memiliki catatan kriminal serius sebelumnya, tindakan Sushames dinilai seperti eksekusi terencana terhadap petugas yang melakukan tugasnya.

Kasus ini menjadi peringatan penting mengenai risiko yang dihadapi aparat penegak hukum dalam menjalankan perintah pengadilan, terutama ketika berhadapan dengan individu yang menunjukkan tanda-tanda gangguan mental dan potensi kekerasan. Pihak kepolisian setempat terus melakukan evaluasi dan peningkatan prosedur keamanan guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.