Media Kampung, Banda Aceh — Penyakit asma merupakan kondisi saluran pernapasan yang sangat sensitif terhadap berbagai pemicu sehingga dapat menyebabkan serangan sesak napas. Meski dipengaruhi faktor genetik, seseorang yang memiliki riwayat keluarga penderita asma belum tentu akan mengalami penyakit tersebut.
Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Hermina Aceh Besar, Dr. Nurfitriani, menjelaskan asma terjadi ketika saluran napas berada dalam kondisi hiperesponsif atau sangat peka terhadap rangsangan dari luar.
“Asma adalah kondisi saluran napas yang hiperesponsif atau sangat sensitif terhadap berbagai pemicu. Ibaratnya seperti daun putri malu yang akan langsung menguncup ketika tersentuh. Begitu juga saluran napas pada penderita asma yang mudah bereaksi terhadap pemicunya,” ujar Nurfitriani dalam program Asokaya RRI Pro 4 Banda Aceh, Sabtu 4 Juli 2026.
Menurutnya, setiap penyandang asma dapat memiliki pemicu serangan yang berbeda-beda. Karena itu, tidak semua penderita mengalami kekambuhan akibat faktor yang sama.
“Kalau ada sepuluh orang penderita asma, bisa jadi sepuluh orang itu memiliki pemicu yang berbeda. Ada yang sensitif terhadap debu, udara dingin, asap, aktivitas fisik, atau faktor lainnya. Jadi pemicu serangan tidak bisa disamaratakan,” katanya.
Nurfitriani menjelaskan, asma umumnya merupakan kondisi yang sudah dimiliki seseorang sejak lahir dan berkaitan dengan faktor genetik, khususnya bakat alergi atau atopi yang diwariskan dalam keluarga. Namun demikian, ia menegaskan bahwa faktor keturunan tidak berarti seorang anak pasti akan menderita asma apabila orang tuanya memiliki penyakit tersebut.
“Yang diturunkan sebenarnya adalah bakat alerginya, bukan penyakit asmanya secara langsung. Jadi jika orang tua memiliki asma, anak belum tentu mengalami asma, tetapi memiliki risiko lebih besar karena membawa kecenderungan alergi,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat yang memiliki riwayat alergi atau keluarga dengan asma agar mengenali pemicu yang dapat menyebabkan kekambuhan. Dengan memahami faktor pencetus sejak dini, serangan asma dapat dicegah sehingga kualitas hidup penderita tetap terjaga.
Nurfitriani juga mengingatkan pentingnya berkonsultasi dengan tenaga medis apabila seseorang sering mengalami gejala seperti sesak napas, batuk berulang, atau napas berbunyi mengi, agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.























Tinggalkan Balasan