Media Kampung – Usia menjadi faktor utama yang memengaruhi keberhasilan program bayi tabung atau IVF (in vitro fertilization). Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi, Dr. dr. Ivan Rizal Sini, GDRM, MMIS, FRANZCOG, Sp.OG, menegaskan bahwa peningkatan usia pasien secara signifikan menurunkan peluang terjadinya kehamilan melalui IVF.
Menurut dr. Ivan, banyak pasangan memiliki ekspektasi tinggi saat menjalani IVF, padahal angka keberhasilannya tidak sama pada setiap kelompok usia. Semakin bertambah usia, kualitas dan jumlah sel telur menurun, yang berdampak langsung pada peluang kehamilan. “Meningkatnya usia akan menurunkan angka keberhasilan secara signifikan, khususnya pada usia di atas 35 tahun, 38 tahun, dan 40 tahun,” jelasnya.
Data menunjukkan bahwa pada pasien berusia di bawah 35 tahun yang menjalani IVF tanpa pemeriksaan kromosom embrio, angka clinical pregnancy rate rata-rata sekitar 50 persen. Sementara itu, pada pasien berusia di atas 40 tahun, angka keberhasilannya turun drastis di bawah 15 persen.
Selain usia, kualitas embrio yang akan ditransfer ke rahim juga berperan besar. Proses seleksi embrio menjadi langkah penting untuk meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan. Salah satu metode yang digunakan adalah pemeriksaan kromosom embrio yang dikenal sebagai PGT-A (Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy).
PGT-A memungkinkan dokter menilai apakah embrio memiliki jumlah kromosom yang normal sebelum ditransfer. “Kita dapat mengidentifikasi embrio yang bukan hanya bagus secara tampilan atau morphology, tetapi juga mempunyai karakter kromosom yang normal, yang kita kenal sebagai euploid,” jelas dr. Ivan. Embrio euploid umumnya memiliki peluang implantasi lebih baik.
Dengan pemeriksaan kromosom, rata-rata angka keberhasilan IVF dapat mencapai 60 hingga 70 persen pada berbagai kelompok usia. Meski demikian, dr. Ivan menegaskan bahwa PGT-A bukan jaminan kehamilan, melainkan alat bantu untuk memilih embrio terbaik.
Informasi mengenai usia, kualitas embrio, dan teknologi seperti PGT-A penting dipahami sejak awal oleh pasangan yang merencanakan IVF. Dengan pemahaman yang lebih baik, pasien dapat memiliki ekspektasi realistis dan mengetahui langkah-langkah optimal untuk meningkatkan peluang keberhasilan. “Evaluasi terhadap embrio sebelum ditanamkan mempunyai value yang besar dalam memberikan edukasi kepada pasien mengenai bagaimana faktor risiko kegagalan implantasi dapat dikurangi,” pungkas dr. Ivan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan