Media Kampung – MRCCC Siloam Hospital menegaskan bahwa skrining kanker yang tepat sasaran dan berbasis risiko merupakan langkah krusial untuk meningkatkan deteksi dini sekaligus menekan angka kematian akibat kanker. Penekanan ini disampaikan dalam workshop Comprehensive Cancer Screening pada The 6th Siloam Oncology Summit 2026 yang digelar pada 22–24 Mei 2026 di Jakarta, dan diikuti oleh dokter umum dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Santi Christiani Gultom, dokter spesialis hematologi onkologi medik, menjelaskan perbedaan antara skrining dan deteksi dini. Ia menyatakan bahwa skrining ditujukan untuk populasi sehat dengan cakupan pemeriksaan yang lebih luas, bukan untuk menegakkan diagnosis penyakit. Tujuan skrining adalah memilah individu yang berisiko dan tidak berisiko agar tindakan pencegahan dan intervensi dapat dilakukan lebih awal.

Untuk kanker paru, pemeriksaan yang dianjurkan adalah low-dose CT (LDCT) bagi populasi yang berisiko tinggi, seperti perokok aktif atau mantan perokok berusia di atas 50 tahun. LDCT dianggap lebih unggul dibandingkan rontgen toraks karena memberikan detail yang lebih baik dengan paparan radiasi yang lebih rendah serta hasil yang dapat diperoleh dalam waktu singkat.

Sementara itu, skrining kanker payudara dianjurkan melalui mamografi untuk perempuan berusia di atas 45 tahun, atau lebih awal jika terdapat riwayat kanker dalam keluarga. RS Siloam Group melalui program SELANGKAH menyediakan layanan skrining kanker payudara gratis yang telah menjangkau 52 ribu perempuan sejak 2023 hingga 2025. Program ini juga telah melayani sekitar tiga ribu peserta dalam pemeriksaan mamografi. Selain itu, pemeriksaan mutasi genetik BRCA dianjurkan bagi kelompok dengan faktor keturunan yang berisiko tinggi.

Di sisi lain, dr. Widyorini Lestari Hanafy, dokter spesialis obstetri ginekologi konsultan onkologi ginekologi, menyoroti pentingnya skrining kanker serviks di Indonesia. Ia menyebut bahwa dokter umum dan bidan memegang peran utama sebagai garda terdepan dalam pemeriksaan kanker serviks di wilayah daerah. Metode skrining yang umum digunakan meliputi Pap smear, inspeksi visual dengan asam asetat (IVA), dan tes HPV DNA. Pemeriksaan HPV DNA diproyeksikan menjadi standar skrining nasional pada layanan kesehatan dasar, mengingat sensitivitas Pap smear yang masih sekitar 60 persen dan kebutuhan pelatihan berulang untuk metode IVA.

Penekanan terhadap skrining kanker yang tepat sasaran ini menjadi bagian dari upaya sistematis untuk meningkatkan angka deteksi dini di Indonesia. Dengan pendekatan skrining berbasis risiko dan populasi sasaran, diharapkan intervensi medis dapat dilakukan lebih cepat sehingga angka kematian akibat kanker dapat ditekan secara signifikan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.