Media Kampung – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) baru saja mengukuhkan 16 dokter baru dengan fakta menarik bahwa 84 persen di antaranya bukan berasal dari keluarga dokter. Hal ini menunjukkan bahwa profesi medis kini semakin terbuka bagi berbagai kalangan masyarakat.

Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Prof. Budi Santoso, menjelaskan bahwa selama ini profesi dokter kerap diasosiasikan dengan latar belakang keluarga yang sudah berprofesi sebagai dokter. Faktor biaya pendidikan yang tinggi dan kebutuhan pengalaman yang sering diperoleh dari keluarga dokter menjadi penyebab dominasi tersebut. Ia sendiri merupakan contoh dokter pertama dalam keluarganya yang berhasil menembus profesi ini.

Prof. Budi menambahkan bahwa saat ini akses pendidikan kedokteran semakin meluas sehingga peluang bagi generasi dari berbagai latar belakang makin terbuka. Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, menguatkan pernyataan tersebut dengan menegaskan bahwa pendidikan kedokteran seharusnya tidak bersifat eksklusif. Keberhasilan dokter baru yang mayoritas bukan dari keluarga dokter membuktikan bahwa kesempatan menempuh pendidikan tinggi tersedia untuk siapa saja yang memiliki kemampuan dan tekad.

Prof. Tri Yogi juga menilai pencapaian ini bukan sekadar keberhasilan akademik, melainkan juga kemajuan sosial yang menandakan profesi dokter kini lebih inklusif. Salah satu dokter baru, Benta Malika El Ghameela, mengaku perjuangannya lebih berat karena tidak memiliki gambaran dunia kedokteran dari keluarga. Ia berasal dari keluarga pedagang dan merasa menjadi pionir yang membuka jalan bagi keluarganya untuk terjun ke bidang medis.

Unusa berkomitmen memperluas akses pendidikan kedokteran dengan dukungan akademik yang memadai, pembentukan karakter, serta lingkungan belajar yang adaptif. Langkah ini diharapkan dapat mendorong semakin banyak calon dokter dari latar belakang non-medis untuk mewujudkan impian mereka meniti karier di dunia kesehatan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.