Media Kampung – Dokter Spesialis Patologi Klinik dari Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (RS UNS), Prof. Tonang Dwi Ardyanto, mengajak masyarakat untuk mewaspadai Hantavirus dengan memahami cara penularan dan pencegahannya. Hantavirus bukan virus baru dan tidak menular antar manusia, sehingga pencegahan utama adalah menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus sebagai sumber virus.
Hantavirus pertama kali dikenal pada tahun 1950-an di Korea Selatan dengan nama Korean Hemorrhagic Fever dan virusnya berhasil diisolasi pada 1978 di dekat Sungai Hantaan. Tikus menjadi inang alami virus ini tanpa menunjukkan gejala sakit. Virus tersebut keluar melalui urin, kotoran, dan air liur tikus.
Penularan ke manusia terjadi saat kotoran atau cairan tikus mengering dan menguap menjadi partikel kecil di udara yang terhirup, atau saat makanan dan minuman terkontaminasi oleh kotoran tikus. Virus tidak menular melalui kontak langsung dengan urin atau kotoran tikus, melainkan melalui partikel aerosol yang tercemar di lingkungan.
Gejala infeksi Hantavirus pada tahap awal sulit dibedakan karena mirip dengan penyakit lain seperti Demam Berdarah Dengue, Leptospirosis, dan Hepatitis A. Gejala yang muncul antara lain demam, nyeri otot, mual, muntah, hingga sesak napas dan gangguan fungsi ginjal pada kondisi yang lebih parah. Prof. Tonang menekankan pentingnya segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan sakit untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Data surveilans menunjukkan sejak 2024 hingga April 2026 terdapat 256 kasus dengan gejala mirip Hantavirus di Indonesia, namun hanya 23 kasus yang positif dan tercatat tiga kematian yang terjadi pada pasien dengan kondisi kesehatan yang lemah. Strain Hantavirus yang ada di Indonesia tidak menular antar manusia sehingga masyarakat tidak perlu khawatir tentang potensi pandemi atau lockdown.
Penularan antar manusia hanya dicurigai pada strain Andes yang ditemukan di Amerika Selatan dengan tingkat kematian tinggi, namun strain tersebut belum pernah terdeteksi di Indonesia. Virus Hantavirus yang umum di Asia cenderung menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan angka fatalitas yang lebih rendah.
Hingga kini belum ada obat antivirus khusus untuk Hantavirus sehingga pengobatan difokuskan pada terapi suportif sesuai gejala yang dialami pasien. Vaksin untuk Hantavirus telah dikembangkan di Korea dan China, namun belum menjadi program vaksinasi nasional di Indonesia karena kasus yang relatif sedikit dan penularan yang terbatas.
Prof. Tonang menegaskan pencegahan terbaik adalah dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, serta mengendalikan populasi tikus yang dapat menjadi sumber penularan virus. Menutup rapat makanan dan minuman juga menjadi langkah penting agar tidak terkontaminasi kotoran tikus.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak panik. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala demam atau gangguan kesehatan yang tidak membaik. Pemeriksaan laboratorium akan membantu tenaga medis memastikan diagnosis dan memberikan penanganan yang sesuai.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.




