Media Kampung – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menegaskan pentingnya memasukkan bahasa daerah Indonesia ke dalam ekosistem kecerdasan buatan dan ruang digital. Pernyataan ini disampaikan pada acara Puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional yang digelar di Gedung Garuda PPSDM Kemendikdasmen, Jakarta, pada 28 Mei 2026.
Atip menjelaskan bahwa pengembangan teknologi Large Language Model (LLM) sangat penting untuk mendukung penggunaan bahasa daerah secara luas dan agar bahasa tersebut tetap relevan di era digital. Ia juga mengingatkan bahwa pelestarian bahasa daerah tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni tahunan, melainkan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan sekolah.
“Jika hanya menjadi pelajaran, bahasa daerah akan menjadi kenangan,” ujarnya, menekankan perlunya penguatan penggunaan bahasa daerah dalam pembelajaran harian di sekolah.
Sementara itu, Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menyampaikan bahwa festival ini merupakan bagian dari program Revitalisasi Bahasa Daerah yang melibatkan pelatihan guru serta festival tingkat provinsi. Hafidz menilai keberagaman bahasa daerah sebagai kekuatan penting bangsa Indonesia dan menyambut baik bahwa pendidikan nasional kini semakin ramah terhadap keberagaman.
Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional sendiri berlangsung dari tanggal 22 hingga 26 Mei 2026 di Depok, Jawa Barat, dihadiri oleh ratusan anak muda dari 36 provinsi yang mewakili 105 bahasa dan dialek daerah. Mereka menampilkan berbagai seni pertunjukan, tembang, pidato, dan dongeng sebagai wujud semangat menjaga bahasa daerah tetap hidup di tengah perkembangan teknologi digital.
Salah satu peserta, Rahmi Oktavia, siswi kelas IX SMPN 1 Rambah Hilir, menyatakan bahwa generasi muda harus bangga menggunakan bahasa daerah dalam keseharian. “Melalui festival ini, kami belajar melestarikan bahasa sekaligus menghargai keberagaman,” ujarnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan