Media Kampung – Sam Altman, CEO OpenAI, menyatakan bahwa kekhawatiran akan terjadinya ‘apocalypse’ pengangguran akibat kemajuan kecerdasan buatan (AI) mungkin tidak akan seburuk yang dibayangkan banyak pihak. Pernyataan ini disampaikan Altman dalam sebuah konferensi yang diadakan oleh Commonwealth Bank of Australia.

Altman mengakui bahwa prediksi awalnya mengenai dampak AI terhadap hilangnya pekerjaan tingkat awal di sektor white-collar ternyata belum sebesar yang diharapkan. Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan sejumlah perusahaan besar melakukan pengurangan staf dalam jumlah besar dan menggantikan beberapa posisi dengan teknologi AI.

Misalnya, pada bulan ini Intuit mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap 3.000 karyawan, sementara Meta melakukan pemangkasan lebih dari dua kali lipat jumlah tersebut. Selain itu, Standard Chartered berencana mengurangi hampir 8.000 posisi yang dianggap ‘bernilai rendah’ dan menggantinya dengan solusi AI. HSBC juga mengimbau stafnya untuk tidak menolak perubahan ini karena generative AI diperkirakan akan menghilangkan beberapa jenis pekerjaan sekaligus menciptakan peluang baru.

Persentase pemutusan hubungan kerja tersebut mencapai hingga 17% dari total karyawan di beberapa perusahaan. Angka ini sejalan dengan riset yang dilakukan oleh OpenAI mengenai dampak AI terhadap pasar kerja, meskipun lebih rendah dibandingkan prediksi awal yang dibuat dua tahun lalu.

Altman sendiri mengakui bahwa beberapa pekerjaan mungkin akan hilang sepenuhnya karena kehadiran AI generatif. Namun, ia tetap optimistis bahwa perubahan yang terjadi tidak akan mengarah pada bencana pengangguran massal. Pandangan ini didasarkan pada pengalaman sejarah ketika teknologi baru, seperti robotika di industri manufaktur otomotif, memang mengubah lanskap pekerjaan tapi juga membawa manfaat besar bagi perusahaan.

Meski begitu, realita di lapangan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat peralihan ke AI tentu berbeda. Altman menekankan perlunya analisis independen dan tidak bias untuk mengukur sejauh mana AI benar-benar memengaruhi pasar kerja tanpa konflik kepentingan.

Dalam waktu dekat, laporan semacam itu diharapkan bisa memberikan gambaran yang lebih akurat tentang dampak AI terhadap pekerjaan global. Sementara itu, jutaan pekerja di berbagai sektor mengalami perubahan yang signifikan akibat adopsi teknologi baru ini.

Dengan perkembangan ini, diskusi mengenai masa depan pekerjaan dan bagaimana AI akan membentuk ulang pasar tenaga kerja terus menjadi fokus utama di berbagai kalangan, termasuk pemerintahan, perusahaan teknologi, dan masyarakat luas.

Secara keseluruhan, meski risiko kehilangan pekerjaan akibat AI tidak bisa diabaikan, pandangan CEO OpenAI memberikan perspektif yang lebih seimbang dan optimistis tentang bagaimana AI akan memengaruhi dunia kerja ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.