Media Kampung – Biaya Operasi Militer AS ke Iran telah menembus angka Rp1.000 triliun, setara dengan US$61 miliar, menurut data real‑time yang dipublikasikan oleh Iran War Cost Tracker.

Tracker tersebut mengacu pada laporan resmi Pentagon yang disampaikan ke Kongres, mencatat bahwa enam hari pertama operasi menelan biaya US$11,3 miliar (sekitar Rp194 triliun) dan perkiraan pengeluaran harian mencapai US$1 miliar (sekitar Rp17 triliun).

Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026 menargetkan fasilitas strategis di wilayah Iran, menyebabkan kerusakan infrastruktur penting serta menewaskan sejumlah warga sipil.

Setelah aksi militer tersebut, kedua belah pihak menandatangani gencatan senjata pada 7 April yang direncanakan berlangsung selama dua pekan, namun perundingan lanjutan di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan permanen.

Pada 21 April, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata sambil melanjutkan blokade pelabuhan-pelabuhan Iran, serta menyinggung kemungkinan pembicaraan damai dalam 36 hingga 72 jam ke depan.

“Kami tetap berkomitmen menekan logistik Iran melalui blokade, tetapi tetap membuka jalur diplomatik untuk mengakhiri konflik,” ujar Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih.

Hingga kini, total biaya operasional terus meningkat, menambah beban ekonomi Amerika Serikat dan menimbulkan ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Pengawasan biaya melalui Iran War Cost Tracker masih berlanjut, sementara tidak ada indikasi resmi bahwa konflik akan kembali memanas dalam waktu dekat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.