Media Kampung – Pentagon mengungkapkan bahwa Biaya perang AS di Iran telah mencapai US$25 miliar sejak operasi militer bersama Israel dimulai pada akhir Februari 2026, menambah tekanan fiskal di tengah dinamika politik internasional.

Pejabat Pentagon Jules Hurst menyatakan dalam kesaksian di Kongres pada 30 April 2026 bahwa operasi bernama “Operation Epic Fury” menelan biaya sekitar US$25 miliar atau setara Rp400 triliun, dengan rincian meliputi bahan bakar, logistik, dan pemeliharaan peralatan tempur.

Menlu Iran Abbas Araghchi menanggapi pernyataan tersebut melalui akun X-nya, menuduh Amerika “berbohong” dan menyebut total biaya perang mencapai US$100 miliar, empat kali lipat dari angka resmi Pentagon.

Araghchi menambahkan bahwa beban tidak langsung bagi pembayar pajak Amerika dapat mencapai US$500 per rumah tangga setiap bulannya, menyoroti dampak ekonomi yang jauh lebih luas dibandingkan angka resmi.

Laporan CBS News pada 30 April 2026 memperkirakan total biaya perang Iran mencapai US$50 miliar atau Rp867 triliun, dua kali lipat angka yang disebutkan Hurst, dengan kerugian peralatan termasuk 24 drone MQ‑9 Reaper bernilai lebih dari US$30 juta masing‑masing.

Laporan tersebut menekankan bahwa angka resmi belum memperhitungkan kerusakan infrastruktur militer, biaya rekonstruksi pangkalan, serta ketidakpastian postur militer AS di kawasan Teluk.

Serangan gabungan AS‑Israel dimulai pada 28 Februari 2026, memicu balasan Tehran terhadap sekutu Amerika di Teluk dan penutupan sementara Selat Hormuz, sebelum gencatan senjata diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan.

Presiden Donald Trump memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa batas waktu baru, menjawab permintaan Pakistan, sementara pertemuan lanjutan di Islamabad pada 11‑12 April gagal menghasilkan kesepakatan damai yang komprehensif.

Di dalam Kongres, anggota Partai Demokrat menuntut transparansi anggaran militer, mengingat proyeksi anggaran pertahanan 2027 diperkirakan melonjak menjadi US$1,5 triliun, tingkat tertinggi dalam sejarah Amerika.

Anggota DPR Adam Smith menyoroti bahwa alasan awal perang, yaitu ancaman nuklir Iran, tidak lagi terbukti, dan menuntut pemerintah meninjau kembali kebijakan luar negeri yang dianggap memprioritaskan Israel di atas kepentingan Amerika.

Penilaian fiskal menunjukkan bahwa beban Biaya perang AS dapat memengaruhi defisit anggaran federal, menambah tekanan pada kebijakan moneter dan program sosial domestik.

Hingga kini, tidak ada tanda-tanda akhir permanen konflik; gencatan senjata masih berlaku, namun ketegangan di Selat Hormuz tetap tinggi, dan perbincangan tentang penarikan pasukan serta penempatan pangkalan jangka panjang belum menemukan titik temu.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.