Media Kampung – Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Keir Starmer mengumumkan larangan besar-besaran penggunaan platform media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Kebijakan ini akan berlaku mulai 2027 dan menargetkan TikTok, Instagram, Snapchat, Facebook, YouTube, dan X, sementara Bluesky dikecualikan tanpa alasan jelas. Namun, rencana tersebut menuai kritik tajam dari tokoh teknologi terkemuka seperti Elon Musk dan Pavel Durov.
Pavel Durov, pendiri Telegram, memperingatkan bahwa larangan justru mendorong remaja ke area internet yang lebih berbahaya. Dalam unggahan di X, ia menyatakan bahwa remaja tidak akan berhenti berkomunikasi digital, melainkan menggunakan VPN untuk mengakses platform yang kurang diawasi. Durov merujuk pada pengalaman di Rusia, di mana 95 persen remaja tetap menggunakan Telegram melalui VPN setelah pemblokiran.
Elon Musk, yang baru saja menjadi triliuner setelah IPO SpaceX, menyebut undang-undang itu sebagai ‘serigala berbulu domba’. Menurutnya, tujuan sebenarnya adalah memungkinkan pemerintah Inggris melacak semua warga. Musk telah lama menentang verifikasi usia dan identitas digital yang dianggap mengarah pada pengawasan massal.
Pemerintah Inggris membela langkah ini sebagai perlindungan anak dari cyberbullying, tekanan mental, dan konten berbahaya. Survei menunjukkan 90 persen orang tua mendukung kenaikan batas usia minimal menjadi 16 tahun. Namun, beberapa perusahaan teknologi meragukan efektivitas larangan total dan khawatir remaja akan beralih ke platform tak terawasi.
Debat ini mencerminkan perdebatan global tentang regulasi media sosial. Setelah Australia menerapkan larangan serupa, banyak negara mulai mempertimbangkan kebijakan serupa. Di Jerman, diskusi serupa diperkirakan akan menguat seiring pelaksanaan dompet digital pada 2027. Kritikus memperingatkan bahwa larangan hanya memindahkan masalah ke bagian internet yang tidak terlihat, bukan menyelesaikannya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan