Media Kampung – 18 April 2026 | Dalam rangka “day of the soldado” yang diperingati hari ini, mantan tentara Australia Ben Roberts‑Smith, penerima Victoria Cross, resmi dibebaskan bersyarat oleh Pengadilan Lokal Downing Centre di Sydney.

Pengadilan memutuskan pada Jumat 17 April 2026 untuk mengeluarkan jaminan setelah terdakwa, berusia 47 tahun, tampil lewat tautan audio‑visual dari Sel Penjara Silverwater.

Hakim Greg Grogin menekankan bahwa menahan Roberts‑Smith lebih lama dapat membuatnya menghabiskan “tahun‑tahun” di penjara jika permohonan jaminan ditolak.

Roberts‑Smith menghadapi lima dakwaan pembunuhan yang dikategorikan sebagai kejahatan perang, terkait lima warga sipil tak bersenjata di Afghanistan antara 2009 dan 2012.

Kasus tersebut mencakup pembunuhan Mohammed Essa di Kakarak, pembunuhan Ahmadullah pada serangan yang sama, serta pembunuhan Ali Jan di Darwan pada September 2012.

Selain dua pembunuhan langsung, dakwaan mencakup dua kasus pembunuhan bersama dan satu perintah eksekusi yang melibatkan rekan tentara yang diidentifikasi sebagai “Person 68” di Syahchow, Uruzgan.

Penuntut umum menuntut bukti lebih kuat dibandingkan kasus defamasi 2020‑2023, di mana Fairfax Media diputuskan oleh pengadilan bahwa tuduhan pembunuhan terhadap Roberts‑Smith lebih mungkin benar daripada tidak.

Dalam proses peradilan sebelumnya, Roberts‑Smith mengajukan gugatan pencemaran nama baik melawan Fairfax Media, namun kalah karena hakim menilai tuduhan tersebut beralasan pada tingkat probabilitas.

Pengadilan menuntut jaminan sebesar $250.000, yang dijanjikan oleh ayahnya, mantan hakim Len Roberts‑Smith, sebagai bentuk jaminan kehadiran.

Syarat jaminan melarang Roberts‑Smith keluar dari Queensland kecuali untuk keperluan hukum atau medis, serta melarangnya menghubungi saksi atau pihak terkait kasus.

Ia hanya diizinkan menggunakan satu telepon seluler dan satu laptop, dengan rincian perangkat harus dilaporkan kepada polisi.

Roberts‑Smith wajib melapor ke kantor polisi tiga kali seminggu dan tidak boleh meninggalkan alamat tempat tinggalnya tanpa persetujuan.

Politisasi kasus meningkat ketika pemimpin One Nation, Pauline Hanson, menyerukan agar warga Australia menghadiri upacara ANZAC Day untuk menghormati Roberts‑Smith.

Hanson berkomentar, “Pahlawan perang tidak pantas dipenjara secara politik; bail ini adalah langkah ke arah yang benar untuk pahlawan kita,” sambil menekankan prinsip praduga tak bersalah.

Seruan tersebut memicu reaksi beragam di media sosial, dengan tagar #attendforBen menyebar, namun banyak netizen menolak mengaitkan ANZAC Day dengan satu individu.

Sejumlah komentar menolak politisasi, seperti satu wanita yang menulis, “Saya akan hadir di layanan fajar bersama suami, bukan untuk Ben, melainkan mengenang rekan-rekannya yang gugur.”

Pengamat militer menilai kasus ini menantang tradisi penghormatan militer Australia, mengingat Roberts‑Smith pernah memimpin parade dan berbicara di layanan fajar ANZAC sebelumnya.

Jika ia mematuhi syarat jaminan, kehadirannya pada layanan ANZAC Day minggu depan kemungkinan besar terbatas pada Queensland, wilayah yang diizinkan oleh pengadilan.

Beberapa pendukungnya merencanakan protes di Melbourne sehari setelah ANZAC Day, menuntut pencabutan semua dakwaan terhadap Roberts‑Smith.

Kasus ini juga menyoroti fakta bahwa mantan anggota SAS lainnya, Oliver Schultz, menghadapi dakwaan kejahatan perang serupa pada 2023, menandakan peningkatan penegakan hukum terhadap tindakan militer di Afghanistan.

Pengadilan menjadwalkan sidang lanjutan untuk mendengarkan pembelaan terdakwa pada akhir April, dengan proses persidangan diperkirakan akan berlangsung selama beberapa minggu.

Secara keseluruhan, keputusan bail pada hari “day of the soldado” menandai babak baru dalam proses hukum yang menyeimbangkan hak asasi terdakwa dan tuntutan keadilan bagi korban konflik Afghanistan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.