Media Kampung – 18 April 2026 | Seorang bocah berusia lima tahun ditemukan tewas akibat tenggelam di Sungai Sampean Lama, Situbondo, Jawa Timur, setelah dilaporkan hilang oleh orang tuanya pada Kamis, 16 April 2026.
Anak tersebut bernama Zainal Abidin, anak dari Zaki (35) dan Erna Andriyana (30) yang tinggal di Dusun Blikeran, Desa Wringin Anom, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo.
Setelah memasuki rumah, Erna menyadari anaknya tidak terlihat dan segera melaporkan kehilangan kepada tetangga serta petugas desa pada pukul 16.00 WIB.
Pencarian intensif dilakukan oleh warga, tim relawan, dan aparat BPBD Situbondo hingga dini hari, namun tidak menemukan jejak sang anak.
Pada pukul 11.00 WIB keesokan harinya, beberapa warga yang sedang melintas di tepi Sungai Sampean Lama melaporkan penemuan mayat bocah yang terjebak di antara batu cadas besar.
Tim Tagana bersama warga setempat segera mengevakuasi jenazah, yang kemudian dibawa ke kantor BPBD untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Situbondo, Timbul Surjanto, menyatakan bahwa korban diperkirakan hanyut setelah bermain di sekitar sungai pada sore hari sebelum menghilang.
“Anak itu dilaporkan hilang sore kemarin oleh ibunya, dan kami menemukan mayatnya mengapung sekitar 500 meter dari rumahnya, terjepit batu cadas,” ujar Timbul Surjanto.
Pemeriksaan visual menunjukkan terdapat luka lecet pada wajah serta luka melepuh di seluruh tubuh, yang kemungkinan disebabkan oleh gesekan dengan batu atau aliran air yang panas.
Mayat Zainal kemudian dibawa ke RSUD dr. Abdoer Rahem untuk dilakukan visum post mortem guna memastikan penyebab pasti kematian.
Setelah proses otopsi selesai, jenazah kembali dibawa ke rumah duka di Dusun Blikeran untuk dimakamkan sesuai tradisi keluarga pada malam hari yang sama.
Pihak kepolisian setempat membuka penyelidikan kasus ini, dengan fokus pada kemungkinan kecelakaan tanpa unsur tindak pidana, mengingat tidak ada bukti keterlibatan pihak lain.
Sungai Sampean Lama memiliki lebar sekitar 5 meter dan aliran yang cukup deras pada musim hujan, sehingga wilayah sekitarnya dianggap rawan bagi anak-anak yang bermain di tepi air.
Masyarakat setempat mengaku tidak menyadari bahaya tersebut, karena aliran sungai biasanya tenang pada siang hari, namun kondisi berubah drastis saat hujan turun.
BPBD Situbondo berjanji akan menambah papan peringatan dan mengadakan sosialisasi keselamatan air bagi warga, terutama orang tua dengan anak kecil.
Kepala BPBD menekankan pentingnya pengawasan orang tua, terutama ketika cuaca tidak menentu, agar anak tidak bermain sendirian di dekat sumber air.
Insiden serupa telah terjadi beberapa kali dalam tiga bulan terakhir di wilayah Jawa Timur, menimbulkan kekhawatiran publik terhadap keamanan lingkungan perairan.
Keluarga korban menerima dukungan moral dari tetangga, tokoh agama, dan pihak berwenang, serta bantuan logistik untuk proses pemakaman.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa pengawasan ketat dan edukasi keselamatan air sangat diperlukan untuk mencegah kehilangan nyawa anak-anak di masa mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan