Media Kampung – Kelompok pemuda Gayasan Squad di Jember memperkenalkan inovasi pemuda Gayasan yang mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak, menawarkan solusi konkret bagi krisis energi regional.

Masalah penumpukan sampah plastik yang sulit terurai telah lama mengganggu lingkungan Dusun Gayasan, Desa Jenggawah, memicu keresahan warga sejak awal 2023.

Tim yang dipimpin koordinator Ahmad Syaifuddin, akrab dipanggil Asep, dibentuk setahun lalu dengan tujuan mengatasi limbah sekaligus menciptakan sumber energi alternatif.

Asep menjelaskan bahwa proses pengolahan menggunakan metode pirolisis, yaitu pembakaran sampah plastik kering dalam wadah tertutup tanpa oksigen pada suhu antara 350°C hingga 550°C.

Selama kira-kira enam jam, pirolisis dijalankan dengan bahan bakar kayu sebagai sumber panas, menghasilkan minyak mentah yang selanjutnya disuling selama satu jam.

Proses penyulingan memisahkan hasil menjadi tiga jenis bahan bakar: solar, premium, dan minyak tanah, sementara gas yang terbentuk saat ini dialirkan kembali untuk mendukung pembakaran di drum.

Dari 10 kilogram sampah plastik, tim mampu menghasilkan sekitar sembilan liter minyak mentah, dengan komposisi akhir 60% solar, 15% premium, 10% minyak tanah, dan 5% gas.

Gas yang terbentuk belum memiliki penampung khusus, sehingga sementara ini dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pembakaran pada proses pirolisis.

Residu padat berupa karbon diproses menjadi briket atau bahan kerajinan, menambah nilai ekonomi dari setiap kilogram sampah yang diolah.

BBM yang dihasilkan kini dipakai untuk menggerakkan pompa air desa serta mesin pertanian diesel, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar konvensional.

Walaupun potensi komersialnya besar, Gayasan Squad menegaskan fokus utama mereka pada pelestarian lingkungan, bukan pada skala produksi industri.

Asep menambahkan rencana ke depan mencakup peningkatan kapasitas produksi, penyempurnaan teknologi, dan pengembangan sistem penampungan gas agar seluruh hasil sampingan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Inovasi ini muncul di tengah krisis energi nasional, dimana pemerintah mendorong diversifikasi sumber energi dan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

Per 19 April 2024, proses pirolisis berjalan stabil, dengan komunitas setempat mulai merasakan manfaat energi yang lebih terjangkau dan lingkungan yang bersih.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.