Media Kampung – Musik K-Pop di Indonesia perlahan ditinggalkan pendengarnya, yang kini beralih ke genre hipdut—perpaduan hip-hop, trap, EDM, dan dangdut. Fenomena ini terlihat dari penurunan jumlah musisi Korea Selatan di tangga lagu Spotify Indonesia serta berkurangnya konser K-Pop dalam beberapa tahun terakhir.

Rafifah Ulayya (23), penggemar K-Pop sejak 2011, mengaku kini lebih sering mendengarkan lagu hipdut seperti “Garam Madu” dari Tenxi, Naykilla, dan Jemsii. Ia menyebut kultur fandom yang ketat dan pertengkaran antar fandom membuatnya tidak nyaman, sehingga memilih menjadi casual listener. Menurutnya, konsep musik K-Pop terasa stagnan dan kurang beragam, sementara musik Indonesia dinilai lebih inovatif namun tetap mempertahankan identitas.

Data Spotify yang dianalisis Media Kampung menunjukkan penurunan signifikan. Pada November 2021, ada delapan musisi Korsel di Top 50 Artists Indonesia, seperti BTS, Blackpink, dan TWICE. Namun pada Mei 2026, hanya BTS yang tersisa. Bahkan di beberapa bulan, tidak ada satu pun musisi K-Pop yang masuk chart. Zaini, dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea UI, menilai kejenuhan generasi sekarang menjadi faktor utama. Ia juga menyoroti penggunaan bahasa Inggris yang dominan dalam lagu K-Pop sebagai bagian dari strategi global, namun justru mengurangi keunikan.

Survei Jakpat 2025 menunjukkan genre pop masih paling populer (71 persen), diikuti dangdut (32 persen). Sementara itu, jumlah konser K-Pop di Indonesia juga menurun. Setelah puncak 35 konser pada 2024, tahun 2025 hanya 19 konser, dan tahun 2026 tercatat 16 konser hingga saat ini. Tren ini mengindikasikan pergeseran preferensi pendengar musik di Indonesia dari K-Pop ke genre lokal seperti hipdut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.