Media Kampung – Lebih dari seabad lalu, Franz Kafka lewat novel Metamorfosis telah meramal kecemasan eksistensial masyarakat modern. Kita Semua adalah Gregor Samsa ketika manusia hanya dihargai lewat slip gaji, sebuah realitas yang makin nyata di era hustle culture saat ini.
Gregor Samsa, tokoh utama, terbangun sebagai serangga raksasa, namun pikiran pertamanya bukanlah panik akan perubahan fisiknya, melainkan ketakutan terlambat kerja. Ia telah mengalami dehumanisasi akut, menganggap fungsi hidupnya hanya untuk bekerja dan menghasilkan uang.
Fenomena ini mencerminkan komodifikasi manusia di dunia kerja modern. Lembur dianggap prestasi, mengorbankan tidur demi tenggat waktu dinilai loyalitas, dan batas antara bekerja untuk hidup dengan hidup untuk bekerja menjadi kabur.
Tragedi Gregor berlanjut saat keluarganya berbalik menjauhinya setelah ia tak lagi produktif. Ayahnya melemparinya dengan apel, adiknya jijik, dan ibunya tak tahan melihatnya. Gregor yang tak lagi menghasilkan uang dianggap beban dan sampah.
Metamorfosis adalah peringatan keras Kafka: sistem tempat kita hidup bisa sangat kejam. Kita hanya dihargai selama masih berfungsi dan menghasilkan. Saat sakit atau tidak kompetitif, sistem—bahkan lingkungan terdekat—siap menggantikan kita.
Sebelum memaksakan diri bekerja dalam kondisi sakit hanya karena takut pada atasan, ingatlah nasib Gregor Samsa. Kerja keras itu penting, tetapi merawat kemanusiaan di dalam diri adalah mutlak. Jangan sampai kita baru menyadari esensi kehidupan ketika dunia sudah menganggap kita tak lebih dari serangga yang tak berguna.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.




Tinggalkan Balasan