Media Kampung – Di balik kemeriahan perayaan nasional, seorang remaja tampak tenggelam dalam kesunyian dan kecemasan. Fenomena Anxiety Gen Z yang semakin meluas memunculkan pertanyaan tentang efektivitas program dan kegiatan seremonial negara dalam merespons persoalan generasi muda. Setiap tahun, negara memiliki banyak momentum seremonial untuk merayakan dirinya sendiri, mulai dari hari-hari nasional hingga pidato optimisme. Namun, di tengah perayaan itu, muncul pertanyaan: mengapa optimisme resmi tidak selalu berbanding lurus dengan kecemasan yang dirasakan Gen Z?
Tinjauan sistematis Tjipto dkk. (2024) dalam International Journal of Mental Health Systems menghimpun berbagai penelitian di Asia Tenggara mengenai gangguan mental. Kajian itu menunjukkan bahwa anxiety dan tekanan psikologis berkaitan erat dengan kondisi sosial-ekonomi, ketidakpastian hidup, serta lemahnya dukungan sosial. Data ini bukan survei tunggal, melainkan sintesis berbagai penelitian yang memperlihatkan pola serupa di kawasan Asia Tenggara.
Penelitian Ibrahim dkk. (2025) dalam International Journal of Social Psychiatry meneliti hambatan masyarakat ASEAN mencari bantuan psikologis. Hasilnya menunjukkan bahwa stigma, keterbatasan fasilitas, biaya layanan, serta rendahnya akses informasi masih menjadi penghalang utama. Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya meningkatnya kecemasan, tetapi juga lambatnya dukungan yang tersedia.
Fenomena ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak generasi muda tumbuh dalam ruang penuh simbol optimisme, namun diiringi ketidakpastian ekonomi, persaingan kerja yang ketat, dan masa depan yang sulit dipetakan. Di media sosial, keberhasilan dirayakan tanpa jeda, sementara kecemasan sering disembunyikan agar tidak dianggap gagal. Dalam situasi seperti itu, seremonial negara menghadapi ujian makna.
Teori imagined community dari Benedict Anderson (1983) membantu membaca persoalan ini. Anderson menjelaskan bahwa bangsa dibangun melalui imajinasi kolektif yang dipelihara lewat simbol, cerita, dan ritual bersama. Namun, imajinasi kolektif membutuhkan pengalaman nyata agar tetap dipercaya. Simbol akan kehilangan daya ikat jika tidak bertemu dengan realitas yang dirasakan masyarakat.
Kritik terhadap seremonial bukan berarti menolak perayaan negara. Persoalannya terletak pada keseimbangan antara simbol dan substansi kebijakan. Ketika kecemasan sosial meningkat dan layanan dukungan belum mudah dijangkau, masyarakat merasakan paradoks: negara tampak optimis di panggung, tetapi warga tetap memikul kekhawatiran di ruang privat. Jika perayaan nasional dimaksudkan memperkuat rasa kebersamaan dan harapan, mengapa sebagian generasi justru merasa semakin tidak pasti terhadap masa depannya?
Teori social determinants of health dari Michael Marmot (2005) relevan dalam konteks ini. Marmot menjelaskan bahwa kesehatan dipengaruhi kondisi sosial seperti pendapatan, pekerjaan, pendidikan, dan akses layanan. Kecemasan bukan hanya urusan psikologis, tetapi juga dipengaruhi cara negara mengelola distribusi rasa aman. Ketika rasa aman ekonomi melemah dan dukungan sosial tidak cukup kuat, tekanan psikologis cenderung meningkat.
Pada akhirnya, negara tidak hanya dinilai dari kemampuannya merayakan identitas bersama, tetapi juga dari kemampuannya memastikan warganya tidak merasa sendirian menghadapi masa depan. Seremonial tetap penting untuk merawat identitas dan kebersamaan, tetapi kebangsaan tidak hidup hanya melalui panggung dan pidato. Ia bertahan melalui rasa aman yang dirasakan warga dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kecemasan sosial tumbuh di tengah narasi optimisme, negara perlu lebih peka membaca sinyal itu sebagai bagian dari evaluasi kebijakan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan