Media Kampung – League of Legends memastikan tidak akan mengikuti tren membuat banyak skin kolaborasi dengan karakter dari media lain karena dapat mengubah tone permainan secara drastis. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh lead designer League of Legends, August Browning.
Browning menjelaskan dalam sebuah siaran langsung di Twitch bahwa Riot Games cenderung menolak memasukkan skin pihak ketiga ke dalam League of Legends. Menurutnya, begitu sebuah game mulai menghadirkan kolaborasi dari berbagai IP luar, suasana dan karakteristik permainan bisa berubah total.
Fenomena kolaborasi lintas media memang tengah menjadi tren di banyak game live-service. Contohnya, Call of Duty yang menghadirkan operator Nicki Minaj, Final Fantasy 14 yang mengadakan raid bertema Evangelion, hingga Tekken 8 yang menghadirkan karakter Baki sebagai DLC. Sementara itu, Fortnite bahkan menggabungkan karakter ikonik seperti Goku dan Jinx dengan selebriti seperti Ariana Grande.
Meski tren ini populer, League of Legends dan game Riot lainnya seperti Valorant memilih untuk tetap menjaga identitas mereka dengan tidak melakukan crossover karakter secara langsung. Browning menegaskan, “Kami cukup tidak terbuka untuk itu. Sekali Anda melakukan skin pihak ketiga, tone game Anda berubah total.”
Dia juga mengakui bahwa Riot memang pernah melakukan kolaborasi dengan brand lain dalam bentuk skin, seperti skin Louis Vuitton untuk karakter Sena dan skin Swain yang terinspirasi dari restoran ayam tertentu. Namun, kolaborasi tersebut masih dalam batas yang menjaga keselarasan tone dan identitas permainan.
Browning membandingkan dengan game lain yang agresif menggunakan kolaborasi, mengatakan bahwa meskipun hal itu menyenangkan dan menarik, tone dari game tersebut menjadi sangat berbeda dengan karakter League of Legends yang sudah dikenal. Pendekatan Riot ini menunjukkan keseriusan mereka dalam menjaga originalitas dan konsistensi dunia permainan yang mereka bangun.
Keputusan Riot ini mendapat apresiasi dari sebagian besar penggemar yang menilai terlalu banyak kolaborasi dapat mengaburkan ciri khas sebuah game. Dengan tetap fokus pada karakter dan dunia League of Legends sendiri, Riot mencoba mempertahankan pengalaman bermain yang otentik dan terjaga.
Situasi ini menegaskan posisi League of Legends sebagai salah satu game MOBA yang tidak hanya populer karena gameplay-nya, tetapi juga karena komitmennya dalam menjaga estetika dan tone yang konsisten. Riot Games tampak memilih untuk tetap berkonsentrasi pada pengembangan konten internal daripada mengejar tren kolaborasi yang sedang marak di industri game saat ini.
Dengan sikap ini, Riot memastikan bahwa League of Legends akan tetap menjadi pengalaman unik yang berbeda dari game lain yang banyak menggabungkan berbagai karakter dari media populer.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan