Media Kampung – Dalam beberapa tahun terakhir, cara anak muda di seluruh dunia mengenal China berubah drastis. Jika dulu identik dengan perang dagang dan kontroversi geopolitik, kini China hadir melalui video-video pendek di TikTok. Konten tentang kereta cepat, kota futuristik seperti Chongqing, kampus modern, dan kehidupan sehari-hari yang tampak maju kerap muncul di halaman For You Page (FYP) jutaan pengguna. Pertanyaannya, mampukah paparan terus-menerus ini membentuk persepsi global tentang China?

TikTok, platform milik ByteDance, telah menjadi salah satu media sosial terbesar dengan lebih dari satu miliar pengguna aktif bulanan (Digital 2025 Global Overview Report). Dengan jangkauan sebesar itu, TikTok bukan sekadar aplikasi hiburan, melainkan ruang digital tempat persepsi publik terbentuk setiap hari. Dalam kajian hubungan internasional, kemampuan memengaruhi persepsi melalui daya tarik dikenal sebagai soft power. Joseph Nye mendefinisikan soft power sebagai kemampuan negara meraih hasil melalui daya tarik, bukan paksaan militer atau ekonomi.

Algoritma sebagai Mesin Soft Power

Yang membedakan TikTok dari platform lain adalah algoritma rekomendasinya yang sangat personal. Pengguna tidak perlu mencari informasi secara aktif; algoritma menentukan apa yang muncul di layar. Ketika seseorang terus-menerus melihat video tentang kemajuan teknologi China, infrastruktur modern, atau budaya populer, secara perlahan terbentuk gambaran tertentu tentang negara tersebut. Bahkan tanpa membaca berita internasional, persepsi bisa terbentuk dari pengalaman digital sehari-hari.

Penelitian terbaru oleh Incerti, Elkobi, dan Mattingly (2026) menemukan bahwa influencer pro-China di TikTok mampu meningkatkan persepsi positif pengguna terhadap China secara signifikan, bahkan lebih efektif dibanding konten resmi media pemerintah. Temuan ini menunjukkan bahwa platform digital menjadi ruang baru pembentukan persepsi internasional.

Bukan Sekadar Propaganda

Meski demikian, menyebut TikTok semata-mata sebagai alat propaganda China adalah penyederhanaan berlebihan. Banyak konten positif tentang China dibuat oleh wisatawan, mahasiswa internasional, atau kreator independen, bukan oleh pemerintah. Pengguna media sosial juga bukan audiens pasif; mereka bisa memilih, menginterpretasi, bahkan menolak narasi. Namun, isu transparansi algoritma, moderasi konten, dan potensi bias informasi tetap menjadi sorotan berbagai negara.

Hubungan antara platform digital, algoritma, dan pengaruh politik sangat kompleks. Jika dulu negara membutuhkan film blockbuster atau kampanye diplomatik mahal untuk membangun citra global, kini pengaruh bisa mengalir melalui video berdurasi detik yang muncul di ponsel miliaran orang. Persaingan pengaruh internasional tidak lagi hanya di ruang diplomasi atau ekonomi, tetapi juga di halaman FYP yang kita buka setiap pagi.

Pada akhirnya, pertanyaan paling relevan bukanlah apakah TikTok propaganda atau bukan, melainkan bagaimana platform digital telah mengubah cara negara membangun pengaruh di abad ke-21. Di era digital, perebutan pengaruh hadir dalam bentuk video pendek sebelum sarapan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.