Media Kampung – Seorang pengembang game melakukan perbandingan langsung antara dua engine populer, Godot dan Unity, dengan membuat game yang sama di kedua platform tersebut, dan menemukan pemenang yang jelas dalam hal efisiensi dan kecepatan pengembangan.
Thomas Grové, pengembang dari Studio Interrupt yang berbasis di Jepang, memutuskan untuk menguji kedua engine tersebut saat mengerjakan sebuah game survival horror bersama putranya. Ia ingin mendapatkan gambaran yang objektif dengan membuat game yang persis sama di Godot dan Unity, sehingga hasil perbandingan bisa lebih akurat tanpa pengaruh variasi pengembang atau proyek berbeda.
Game yang dibuat berada pada tahap awal pengembangan dengan fitur seperti kontrol karakter lengkap, sistem transisi kamera dan adegan, shader tri-planar dither, serta sistem objek interaktif. Grové menjalankan seluruh fitur ini di kedua engine, lalu membandingkan performa dan efisiensi keduanya selama proses pengembangan.
Hasilnya menunjukkan bahwa secara fungsi, kedua engine mampu menjalankan fitur dengan baik, meskipun ada beberapa aspek minor yang satu engine lakukan sedikit lebih baik dari yang lain. Namun, Godot unggul secara signifikan dalam kecepatan compiling, memulai, dan memuat proyek.
Lebih jauh, Godot terbukti lebih dari lima kali lebih cepat saat memuat proyek, 20 kali lebih cepat dalam proses ekspor, dan 31 kali lebih cepat dalam kompilasi skrip dibandingkan Unity. Kecepatan ini sangat berarti mengingat aktivitas tersebut dilakukan berulang kali selama pembuatan game. Selain itu, Godot hanya memerlukan ruang penyimpanan sebesar 164 megabyte, jauh lebih kecil dari Unity yang mencapai sekitar 20 gigabyte.
Meski demikian, Grové mencatat bahwa dalam hal frame rate output akhir, Unity sedikit lebih unggul, tetapi kedua engine mampu mempertahankan frame rate di atas standar minimal 60 FPS yang ia tetapkan. Berdasarkan data tersebut, Grové menyimpulkan bahwa Godot menjadi pilihan engine yang lebih efisien dan kemungkinan akan terus digunakan dalam proyek game mereka.
Eksperimen ini mendapat tanggapan dari beberapa pengguna yang mengingatkan bahwa skala proyek yang masih sederhana mungkin belum merefleksikan performa engine saat menghadapi game yang lebih kompleks. Namun, konsistensi dan perbedaan signifikan dalam kecepatan yang ditunjukkan Godot tetap menjadi indikasi kuat keunggulan efisiensi engine ini.
Metode pengujian langsung dengan membangun dua game identik dari nol memang tidak mudah dilakukan secara luas, tetapi hasil yang diperoleh memberikan wawasan penting bagi para pengembang yang sedang mempertimbangkan pilihan engine terbaik untuk proyek mereka.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan